Oleh: PEPING AS | 28 Maret 2011

Kajian Semiotika dalam Sastra


SEMIOTIKA yang merupakan bagian dari teori komunikasi berbasis tradisi bisa dianggap sebagai teori paling purba. Bahkan, sejak manusia lahir  sudah bisa menerjemahkan pikiran (encoding) informasi “dunia-baru” yang dilihatnya dengan menunjukkan beragam simbol. Terjemahan ini membentuk pesan lewat tangisan, gerak-gerik, atau mengemut jari.

Kita, manusia dewasa (si orang tua), menerjemahkannya (decoding)  dengan beragam tindakan, mulai dari memberikan selimut, memasukannya dalam tabung inkubator dan memberinya ASI. Permulaan kehidupan memang sudah dipenuhi oleh simbol. Tuhan pun tak melepaskan tradisi simbol dalam setiap perintah-perintahnya. Ketika Adam dan Hawa dilarang untuk memakan buah Quldi, itu jelas sebuah simbol yang nyata: menguji kepatuhan manusia atas perintah Allah.

Hingga tumbuh besar, secara sadar atau pun tidak , manusia terus diikuti beragam simbol-simbol yang harus dipecahkan. Studi mengenai semiotika tak lain mengarahkan dan menuntut kita untuk mengelola simbol yang diterima untuk kemudian bisa digunakan sebagai sarana pemahaman terhadap dirinya sendiri, atau penting juga dalam mengukur tindakan berkaitan dengan hidup dan kehidupan sosialnya.

Untuk mencapai sasaran besar itu, tradisi semiotika mencakup teori utama: bagaimana tanda mampu mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan dan sebagainya yang berada di luar diri. Studi mengenai tanda tidak saja memberikan jalan atau cara dalam mempelajari komunikasi, tetapi juga memiliki efek besar pada hampir setiap aspek (persektif) yang digunakan dalam teori komunikasi.[1]

Memahami tanda tentu pada setiap orang tidak sama. Salah satu faktor penentunya adalah interpretasi masing-masing individu. Sementara interpretasi sesuatu hal alamiah yang tidak dapat disatukan antara individu dengan lainnya (sangat subjektif), karena terbentuk dari pengalaman, pengetahuan, atau sosial budaya yang berbeda pula.

Ketika menyebut kata “anjing”, seketika akan muncul beragam pandangan orang akan kata ini. Ada yang menyebutnya hewan lucu, setia, menyenangkan, penjaga dan sebagainya. Namun bagi sebagian lainya, anjing adalah binatang galak dan menyeramkan karena yang bersangkutan mungkin pernah dikejar atau bahkan digigit anjing.

Contoh lainnya adalah soal warna  bendera kertas kuning yang melambangkan kedukaan karena orang meninggal. Ini banyak ditemui di Jebodetabek dan sekitarnya. Tetapi di sebagian Jawa-Tengah, bendera kertas putih adalah sebagai tanda berduka, sebagian lainnya menggunakan warna merah. Pemilihan ini tentu tidak dibuat tanpa alasan, tetapi melibatkan begitu banyak faktor.

Dalam karya sastra, kita dapat menjumpai begitu banyak simbol-simbol yang digunakan oleh si penulis. Sastra tentu saja bisa digolongkan sebagai bentuk komunikasi. Hanya saja dalam menyampaikan pesannya, sastrawan ‘dibelenggu’ oleh suatu sistem yang sarat kode, yang berkiatan satu dengan lainnya hingga menuju suatu makna. Penggunaan kode oleh para sastrawan sangat bertalian dengan sosial-budaya, pengalaman, pengetahuan si penulis, atau setting karya sastra yang disampaikan. Maka, ketika publik sastra ingin menikmatinya, mereka ‘dipaksa’ untuk memecahkan kode-kode yang disampaikan itu.  Tidak dipungkiri, memang dibutuh studi semiotika untuk bisa memaknai maksud dari si penulis.

Dua novel  “Padang Bulan” dan “Cinta di Dalam Gelas” karya Andrea Hirata mungkin bisa dijadikan satu contoh. Cerita ini menitik beratkan pada permainan catur. Pokok cerita memang ditel menceritakan bagaimana biduk-biduk itu dimainkan. Tetapi, catur rupanya hanya sebuah simbol. Bagi orang Belitong,  catur adalah harga diri.

Setidaknya, Andrea ingin menggambarkan bahwa para juara catur bisalah melebihi ketenaran para menteri negara. Sisi feminisme yang ditinjau dari gender (konstruksi sosial dan kultur), dan bukan pada ‘jenis kelamin’ (sex) juga disentuh. Catur melambangkan kelaki-lakian, sekaligus dominasi serta kekuasaan. Maka, ketika ada seorang petarung catur wanita—bernama Maryamah—yang  ingin menantang sang juara bertahan, ia mendapatkan perlawanan hebat, karena itu artinya dianggap melawan arus utama sosial yang berlaku. Dalam karyanya, Andrea mengajak pembaca untuk mengerti bahwa posisi wanita di sana cukup ‘tertindas’.

Catur rupanya juga lekat dengan kopi. Kopi tidak dipandang sebagai minuman semata. Orang-orang dari berbagai suku di Belitong—Melayu, Hokian, Kek—bisa bercampur dan bertukar informasi. Komunikasi dibangun lewat minum kopi, hingga berjam-jam. Kopi juga memiliki filosofi, begitu menurut Andrea. Maka, cara mengangkat gelas ke mulut, memegang gelas, campuran susu dan gula, kekentalan, gaya duduk, bagaimana mengaduk, soal intonasi memesan kopi menjadi simbol-simbol untuk menentukan karakter seseorang.

Sastrawan yang paling sering menggunakan simbol adalah Agus Noor. Cerpen berjudul “Sirkus” dalam antologinya:  “Potongan Cerita di Kartu Pos” disesaki oleh ragam pertanda yang kalau tidak cermat, pembaca akan sulit mencerna. Dalam cerpen ini, ia misalnya,  menggambarkan orang yang kurang gizi seperti balon mainan anak-anak: terbang tapi hanya melayang-layang. Tubuh mereka  bulat, tapi hanya kosong. Mengapung layaknya balon ulang tahun.

Agus jelas ingin menggambarkan para anak-anak Indonesia, kelak, hanya menyantap angin. Sebab, tidak ada lagi yang bisa dimakan, setelah Indonesia dirundung bencana bertubi, harga BBMmahal, barang-barang tidak ada, makananpun tandas, bahkan akar sebagai makanan alternatif terakhir juga nihil.  Mereka, hanya mengisi perut dengan angin.

Jadi, ketika seseorang membaca sebuah karya sastra apakah itu puisi mungkin juga prosa haruslah bisa memecahkan kode-kode simbol yang disampaikan oleh sastrawan. Kode-kode itu sangat ditentukan oleh norma-normal, sosial budaya dalam kaitannya dengan agama, pandangan politik, humanis adat istiadat dan sebagainya.[2] 

BojongKulur: 2303011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: