Oleh: PEPING AS | 5 April 2012

Komunikasi sebagai Multi-Disiplin


Syarat terjadinya interaksi yang menjadi pertanda manusia sebagai makhluk sosial adalah komunikasi. Sulit membayangkan manusia tanpa komunikasi, karena bisa jadi sejarah peradaban dunia tidak akan terjadi. Peran penting komunikasi menjadi vital karena menjadi salah satu dari kegaitan sehari-hari yang benar-benar terhubung dengan semua kehidupan manusia. Dengan begitu, setiap aspek kehidupan kita dipengaruhi oleh komunikasi, dimana melibatkan proses ketika informasi dan pesan dapat tersalurkan dari satu pihak—orang dan benda atau media—ke pihak lain.

Komunikasi sendiri, menurut pandangan Stephen W. Littlejohn tidak mudah untuk didefinisikan, meski oleh Frank E.X. Dance dan Carl E. Larson ada 126 definisi komunikasi seperti dimuat dalam karyanya, The Function of Human Communication: A Theoretical Approach. Komunikasi sebagai ilmu sudah lama diteliti sejak zaman dulu, namun menjadi begitu penting ketika memasuki abad ke-20. Komunikasi makin dipandang penting ketika tekonologi-teknologi pendukung komunikasi, mulai dari radio, televisi, telepon, satelit dan jaringan komputer makin berkembang.

Pergerakan ini mengkapitalisasi komunikasi bukan saja sebagai sebagai wahana untuk berkomunikasi, tetapi juga bisnis maha besar dan mempengaruhi pandangan dan peta politik. Dari sini saja sangat jelas bahwa komunikasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.            Pada masyarakat informasi seperti saat ini, penjajahan atas pihak lain bukan lagi dilakukan secara fisik seperti ketika terjadi pada masyarakat tradisional, agraris maupun industri.

Saat ini, siapa yang menguasai informasi, dialah yang menang. Informasi tentu saja berhubungan dengan media, dan itu artinya menguasai channel sehingga dapat mengatur efek yang diharapkan dari komunikan yang mendapatkan informasi tersebut. Masyarakat yang memiliki media komunikasi maju otomatis memiliki kesempatan untuk Berjaya dibandingkan dengna masyarakat yang hanya memiliki media komunikasi seherhan. Sumber komunikasi adalah pesan, informasi dan wawasan yang membuat orang mengetahui banyak hal. Siapa yang memiliki sumber-sumber informasi tersebut otomatis mendapatkan legitimasi untuk mengarahkan orang-orang.

Bahkan, sejak Perang Dunia II, komunikasi menjadi topik yang penting dibicarakan. Strategi perang menuntut sebuah komunikasi yang efektif dan tentu saja terjamin. Sebuah perang ideologi hanya bisa dibangun dan dimenangkan oleh strategi komunikasi yang efektif. Penyebaran paham kapitalisme di barat, misalnya, bisa begitu berpengaruh melalui propaganda-propaganda yang efektif. Perang barangkali saat ini tidak secara fisik melainkan melalui sebuah saluran media yang menunut kecermatan dan strategi jitu.

Dalam perkembangan selanjutnya, manusia makin keranjingan dengan ilmu pengetahuan dan wawasan. Maka, bertumbuhlah metode dan teknik-teknik penyampaian informasi agar lebih menarik dan didengar. Teknologi komunikasipun dikembangkan. Cara menyajikan dan menyampaikan pikiran, pesan, informasi yang berbobot dan menarik kemudian dipelajari. Seperti orang-orang dan para ilmuwan mulai tertarik untuk mempelajari seni, menyampaikan pertanyaan, seperti pidato. Inilah benih-benih tumbuhnya penyelidikan dan penilaian terhadap komunikasi, yang kelak, menjadi sebuah ilmu.

Pada abda ke-5 SM, untuk pertama kalinya dikenal ilmu yang mempelajari proses pernyataan antar-manusia yang kemudian dikenal dengan  bahasa Yunani, rhetorike, dengan pelopornya adalah Georgias (480-370 SM). Pada abad-abad berikutnya, ilmu ini dikembangkan oleh bangsa Romawi dan dikenal dengan rhetorika, dan kemudian diadopsi dalam bahasa Inggris dengan nama rhetoric (Inggris). Seni beretorika, pada masa itu juga mendapatkan tentangan, karena seringkali gaya retorik, mengabaikan isi pesan yang disampaikan. Dengan perkataan lain, mereka sering memutarbalikkan fakta, dengan tujuan agar pidatonya didengar. Bagaimanapun kajian komunikasi yang menekankan pada gejala pesan melalui kata-kata yang secara praktis pada saat pidato dan retorika terus dikembangkan hingga saat ini.

 

KOMUNIKASI, MULTI DISIPLIN

Cakrawala komunikasi sangat luas dan beraneka ragam. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang tidak lepas dari komunikasi. Berbagai dimensi selalu hadir dalam kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia ada, komunikasi dipastikan selalu hadir baik secara perorangan, kelompok, bangsa maupun umat manusia sepanjang hidup di muka bumi.

Dengan demikian, komunikasi bisa dipandang sebagai ilmu yang multidimensional, karena dipelajari dari berbagai disiplin ilmu—bersama-sama maupun sendiri. begitu luasnya khazanah dan pembahasan ilmu komunikasi maka tidaka ada yang bisa menguasainya secara menyeluruh. Namun, yang biasanya terjadi seorang manusia komunikasi hanya memusatkan perhatian dan keahliannya pada satu bidang saja. Dengan begitu, jarang ada yang bergerak, memahami maupun menjadi ahli di dua bidang atau tiga bidang komunikasi.[1]     Hal ini membuktikan begitu luasnya cakupan ilmu komunikasi, hingga segala aspek kehidupan nyaris tidak bisa lepas dari komunikasi.

Awalnya, mata kuliah yang berhubungan dengan komunikasi terdapat pada banyak jurusan: ilmu pengetahuan, seni, matematika, sastra, biologi, bisnis dan ilmu politik.[2] Dalam penerapannya masing-masing disiplin ilmu itu menggunakan komunikasi untuk tujuan yang disesuaikan dengan bidangnya masing-masing. Misalnya, para psikolog meneliti komunikasi sebagai jenis perilaku tertentu yang didorong oleh proses-proses psikologi yang berbeda. Begitu juga para sosiolog memfokuskan pada masyarakat dan proses sosial, serta melihat pula komunikasi sebagai salah satu faktor sosial yang penting dalam masyarakat.

Kemudian para antropolog yang biasanya tertarik pada kebudayaan memperlakukan komunikasi sebagai sebuah faktor yang membantu mengembangkan, mempertahankan, dan mengubah kebudayaan. Secara perlahan jurusan kemampuan berbicara, komunikasi bahasa, komunikasi dan komunikasi massa secara terpisah mulai berkembang. Pada akhinya komunikasi dipandang sebagai pusat untuk memahami pengalaman manusia, meski lebel ilmu yang tertera padanya begitu banyak, seperti jurusan komunikasi atau pendidikan komunikasi.

Bagi para peneliti yang bergerak di bidang-bidang lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, atau bisnis lebih condong memandang komunikasi sebagai sebuah proses sekunder. Yaitu, sesuatu yang penting untuk menyampaikan informasi saat strukturnya sudah terbentuk. Sebaliknya, para akademisi ilmu komunikasi memandang komunikasi sebagai elemen yang menyusun kehidupan kemanusiaan. Saat ini, walaupun ilmu komunikasi dianggap bukan ilmu yang berdiri sendiri karena sifatnya yang interdisipliner, dan ciri interdisipliner yang terus berlanjut, dalam perkembangannya, komunikasi menghasilkan teori-teorinya sendiri serta tidak bergantung pada cabang ilmu sebagai titik awal toretikal seperti pada awal bidang ini dimulai.

Itu sebabnya, komunikasi dianggap sebagai ilmu yang tidak berdiri sendiri dan sering kali meminjam dari disiplin ilmu lain, seperti disebutkan di atas, termasuk juga filsafat. Proses interdisipliner ini membuat ilmu komunikasi berkembang  begitu pesatnya. Seiring dengan perkembangan komunikasi umat manusia di era globalisasi dan teknologi informasi komunikasi (ITC) ala abad-21.[3] Perkembangan ilmu komunikasi mengambil bentuk-bentuk dan arahan yang berbeda di belahan dunia yang berbeda-beda. Misalnya, teori-teori Timur cenderung berfokus pada keutuhan dan persatuan, sedangkan peandangan Barat kadang-kadang mengukur bagian-bagian tanpa harus memperhatikan integrasi dasar atau penggabungan bagian-bagian tersebut.

Sebagai sebuah ilmu interdisipliner, sebuah visi teori komunikasi yang mengambil sebuah langkah maju yang besar untuk mempersatukan bidang yang akan sedikit berbeda ini dan menunjukkan kerumitan-kerumitannya. Dengan kata lain, komunikasi tidak akan pernah menyatu dengan dengan sebuah teori tunggal atau kelompok teori. [4] Teori-teori akan selalu mencerminkan perbedaan gagasan praktis mengenai komunikasi dalam kehidupan yang umum. Sehingga, manusia selalu dihadapkan pada keragaman pilihan.

Menurut Robert T. Craig, untuk melihat komunikasi haruslah mencari jenis hubungan yang berbeda berdasarkan pada. Pertama, pemahaman umum mengenai kesamaan dan perbedaan atau titik tekanan di antara teori-teori dan kedua, sebuah komitmen untuk mengatur tekanan-tekanan melalui dialog. Namun, Craig sekaligus menekankan pentinya komunikasi sebagai sebuah bidang: “Komunikasi…bukanlah fenomena sekunder yang dapat dijelaskan oleh faktor-faktor psikologis, sosiologis, kultural, atau ekonomi. Tetapi komunikasi itu sendiri merupakan proses sosial yang utama dan mendasar yang menjelaskan semua faktor”.

 

KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Di tingkat metodologi, semenjak awal pertumbuhan ilmu-ilmu sosial sudah dikenali mahzab yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan penelitian kuantitatif lahir dan berkembang biak dari tradisi ilmu-ilmu sosial Perancis dan Inggris yang kental dipengaruhi oleh tradisi ilmu-ilmu alam. kuantitatif  diwarnai oleh aliran filsafat materialisme, realisme, naturalisme, empiris-me, dan positivisme (Klaus Bruhn 1991). [5]

Dari mahzab Pendekatan kuantitatif ini lahir dan berkembang ilmu sosial berwajah positivisme yang mengedepankan pendekatan penelitian kuantitatif sebagi satu-satunya cara untuk menjelaskan fenomena sosial (perilaku sosial). Mahzab ini manusia di pandang sebagai mahluk jasmaniah biasa, yang sehari-hari berperilaku (melakukan respons). Perilaku berkonotasi mekanistik/bersifat otomatis, yang penyebabnya bisa terletak pada kekuatan yang berasal dari dalam maupun dari luar diri manusia itu sendiri. Penyebabnya bisa bersifat internal (karena faktor organismik), dan bisa juga bersifat eksternal (karena faktor struktur sosial).

Mahzab pendekatan kualitatif, lahir dan berkembang dari tradisi ilmu-ilmu sosial Jerman yang sarat diwarnai pemikiran filsafat ala Platonik sebagai-mana yang kental tercermin pada pemikiran Kant maupun Hegel. Mahzah ini kental diwarnai oleh aliran filsafat idealisme, rasionalisme, humanisme, fenomenologisme, dan interpretivisme. Sehingga dari sini berkembang ilmu sosial interpretivisme yang mengunggulkan pendekatan penelitian kualitatif sebagai satu-satunya cara yang relevan memahami fenomena sosial (tindakan sosial). Dalam pandangan mahzab ini manusia dipandang sebagai makhluk rohaniah, selaku makhluk sosial, sehari-hari bukanlah berprilaku melainkan bertindak.

 

Dalam mahzab ini lahir dan berkembang biak tradisi ini tidak tunggal, melainkan beragam sesuai dengan keragaman aliran teori dan akrab tradisinya masing-masing. Tetapi itu semua walaupun memperlihatkan keragaman, kesemuanya bermuara kepada alasan-alasan yang tersembunyi di balik tindakan para pelaku tindakan sosial. Atau bermuara kepada makna sosial dari suatu fenomena sosial.

Dalam tradisi komunikasi seperti dipopulerkan oleh Craig, ada dua tradisi yang masuk dalam mahzab kuantitatif, yakni sosiopsikologi dan sibernetika. Sedangkan, aliran kualitatif adalah fenomenologi, semiotik, sosiokultural, kritis dan retorika.

1. Sosiopsikologi. Dapat diartikan bahwa komunikasi merupakan pengaruh antarpribadi). Tradisi ini mewakili perspektif objektif/scientific. Penganut tradisi ini percaya bahwa kebenaran komunikasi bisa ditemukan melalui pengamatan yang teliti dan sistematis. Tradisi ini mencari hubungan sebab-akibat yang dapat memprediksi kapan sebuah perilaku komunikasi akan berhasil dan kapan akan gagal. Adapun indikator keberhasilan dan kegagalan komunikasi terletak pada ada tidaknya perubahan yang terjadi pada pelaku komunikasi. Semua itu dapat diketahui melalui serangkaian eksperimen.

2. Sibernetika. Komunikasi dipandang sebagai pemrosesan informasi.
Ide komunikasi sebagai pemrosesan informasi pertama kali dikemukakan oleh ahli matematik, Claude Shannon. Karyanya, Mathematical Theory Communication diterima secara luas sebagai salah satu benih yang keluar dari studi komunikasi. Teori ini memandang komunikasi sebagai transmisi pesan. Karyanya berkembang selama Perang Dunia kedua di Bell Telephone Laboratories di AS. Eksperimennya dilakukan pada saluran kabel telepon dan gelombang radio bekerja dalam menyampaikan pesan. Meski eksperimennya sangat berkaitan dengan masalah eksakta, tapi Warren Weaver mengklaim bahwa teori tersebut bisa diterapkan secara luas terhadap semua pertanyaan tentang komunikasi insani (human communication). Jadi dalam tradisi ini konsep-konsep penting yang dikaji antara lain pengirim, penerima, informasi, umpan balik, redundancy, dan sistem. Walaupun dalam tradisi ini seringkali mendapat kritik terutama berkenaan dengan pandangan asumtif yang cenderung menyamakan antara manusia dengan mesin dan menganggap bahwa suatu realitas atau gejala timbul karena hubungan sebab-akibat yang linier.

3. Retorika, memandang komunikasi sebagai ilmu bicara yang sarat seni. Ada enam ciri pada tradisi ini:

  • Keyakinan bahwa berbicara membedakan manusia dari binatang
  • Ada kepercayaan bahwa pidato publik yang disampaikan dalam forum demokrasi adalah cara yang lebih efektif untuk memecahkan masalah politik
  • Retorika merupakan sebuah strategi di mana seorang pembicara mencoba mempengaruhi seorang audiens dari sekian banyak audiens melalui pidato yang jelas-jelas bersifat persuasive. Public speaking pada dasarnya merupakan komunikasi satu arah
  • Retorika merupakan sebuah strategi di mana seorang pembicara mencoba mempengaruhi seorang audiens dari sekian banyak audiens melalui pidato yang jelas-jelas bersifat persuasive. Public speaking pada dasarnya merupakan komunikasi satu arah
  • Menekankan pada kekuatan dan keindahan bahasa untuk menggerakkan orang banyak secara emosional dan menggerakkan mereka untuk beraksi/bertindak. Pengertian Retorika lebih merujuk kepada seni bicara daripada ilmu berbicara
  • Sampai tahun 1800-an, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan haknya. Jadi retorika merupakan sebuah keistimewaan bagi pergerakan wanita di Amerika yang memperjuangkan haknya untuk bisa berbicara di depan publik.

4. Semiotic. Komunikasi sebagai proses membagi makna melalui tanda. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Sebuah tanda adalah sesuatu yang menunjukkan sesuatu yang lain.

5. Sosiokultural. Komunikasi sebagai penciptaan dan pembuatan realitas sosial. Premis tradisi ini adalah ketika orang berbicara, mereka sesungguhnya sedang memproduksi dan memproduksi kembali budaya. Sebagian besar dari kita beranggapan bahwa kata-kata mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi. Pandangan kita tentang realitas dibentuk oleh bahasa yang telah kita gunakan sejak lahir.

6. Kritis. Komunikasi adalah refleksi penolakan terhadap wacana yang tidak adil. Dua Asumsi dasar tradisi ini:

  • Menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif. Ilmuwan kritis menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang dalam konteks
  • Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap struktur-struktur yang seringkali tersembunyi

7. Fenomenologi (Komunikasi sebagai pengalaman diri dan orang lain melalui dialog). Meski fenomenologi adalah sebuah filosofi yang mengagumkan, pada dasarnya menunjukkan analisis terhadap kehidupan sehari-hari. Titik berat tradisi fenomenologi adalah pada bagaimana individu mempersepsi serta memberikan interpretasi pada pengalaman subyektifnya. Bagi seorang fenomenologis, cerita kehidupan seseorang lebih penting daripada axioma-axioma komunikasi.[]


[1] Akhmadsyah Naina, “Manusia Komunikasi, Komunikasi Manusia:75 Tahun M Alwi Dahlan” hal xiii, 2008

[2] Stephen W.Littlejohn, “Teori Komunikasi”, hal.6, 2009

[3] Ricard West and Lynn H.Turner, “Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi”, McGraw Hill, 2008

[4] Craig, ”Communication Theory as a Field, 1996 dalam Stephen W.Littlejohn “Teori Komunikasi” hal.9

[5] Dr. Erman Anom MM, Artikel Ilmu Komunikasi, Universitas Esa Unggul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: