intermezo

Hal Sepele Juga Bisa Menarik


Ulasan Film “Cop Out”

Kalau anda kangen gaya kocak Bruce Willis dalam serial TV “Moonlighting” mungkin saatnya menyaksikan film terbarunya, “Cop Out”. Willis yang memerankan detektif Jimmy Monroe dipaksa melucu setelah sebelumnya dijargonkan sebagai super jagoan -setidaknya dalam “Die Hard”- beberapa tahun silam.

Dipasangkan dengan Tracy Morgan, sesungguhnya Willis nampak tenggelam. Entah, apa yang diinginkan sang sutradara, Kevin Smith, yang meminta Morgan terlihat begitu berlebihan. Willis ibarat pelakon Cahyono di Jayakarta Grup, yang hanya memberi umpan-umpan kelucuan pada mitranya di film tersebut, Paul Hodges.

Sebagai aktor serba-bisa, peran Willis memang tetap enak ditonton. Sayang, alur cerita yang disajikan duet Robb Cullen dan Mark Cullen begitu ringan, bahkan terlalu sederhana. Mungkin karena film ini memang ber-genre laga, kriminal yang setengah humor. Terlebih saat Jennifer Euston, si penentu peran, memasangkan Seann William Scott sebagai Dave, yang tampil jorok di “American Pie”.

Dave inilah biang keonaran. Ketika Jimmy Monroe ingin menjual kartu baseball kesayangannya, Dave mencurinya, tepat ketika transaksi akan dilakukan di sebuah toko. Satu set kartu legendaries “Andy Pafko” itu bukan barang murah, karena nilainya saja bisa mencapai 83 ribu dolar AS. Bukan tanpa alasan Monroe menjual kartu pemberian ayahnya itu. Polisi veteran NYPD ini ingin membuktikan pada mantan istrinya, ia mampu membiayai kebutuhan pernikahan anaknya senilai 43 ribu dolar.

Perburuan Dave pun dimulai. Beberapa kejadian kocak pun dimunculkan. Hodges sering berlakon tidak pada tempatnya, sehingga film ini terasa janggal dan mengganggu. Namun, inilah hebatnya Hollywood, persoalan sepele pun bisa dibuat film asyik. Ketegangan hadir saat Dave mengaku bahwa kartu baseball itu dijual ke gembong narkoba New York, Poh Boy (Guillermo Diaz).

Persoalan makin rumit, karena adik kesayangan Poh Boy, Juan (Cory Fernandez), tewas saat kejar-kejaran dengan Monroe dan Hodges di dalam pemakaman. Beruntung film ini masih menampilkan wanita cantik Anna de la Reguera, yang memukau saat memerankan Gabriela, si pembawa flash drive yang menyimpan begitu banyak transaksi Poh Boy.

Ujung film ini tentu saja bisa anda tebak. Poh Boy tewas, dan Gabriela yang terandera bisa selamat. Serta pernihakan anak Monroe tetap bisa berlangsung.

Cuma, ini yang di luar dugaan : kartu baseball yang menjadi inti cerita justru hancur, terkena serangan mereka sendiri, saat menyarangkan peluru di dada kiri Poh Boy. Sebuah satire yang mengejutkan! []

Gelora: 27:04:2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s