intermezo

Kehangatan Keluarga, Sebuah Kunci


Film: “The Fighter”

INI cerita tentang biografi seorang petinju. Tapi, jangan harap anda akan banyak menyaksikan pertarungan berdarah-darah di arena tinju. Kekuatan “The Fighter” bukan pada adegan-adengan seperti biasa anda tonton di serial “Rocky”, melainkan alur ceritanya. Banyak pesan moral disampaikan.

“The Fighter” mengambil jarak agak berbeda dari ragam film tinju seperti “Million Dollar Baby”, “Cinderella Man”, atau “Raging Bulls” yang kesemuanya berkutat soal ring. David O. Russell, sang sutradara, begitu piawai mengarahkan para pemain yang berkarakter kuat, namun tidak saling menenggelamkan. Hingga, film berdurasi 115 menint ini pun dianugrahi dua penghargaan Oscar 20011 untuk aktor dan aktris pendukung terbaik, masing-masing: Christian Bale dan Melissa Leo.

Penghargaan itu rasanya memang pantas disandang Bale. Ia rela menyusutkan berat tubuhnya hingga 15 kilogram, dan menghilangkan bayang-bayang orang tentang sosok Batman, yang ia bintangi: berwajah tegar, tegap dan selalu memesona. Atau, jauh dari karakter sangarnya dalam “Terminator Salvation”.

Bale sebelum memerankan ini harus bersaing dengan kawan sekaliber lainnya: Matt Damon dan juga Brad Pitt.  Tapi, pilihan pada Bale terbukti tidak salah. Ia total memerankan Dicky Enklud yang tak lain penyandu narkoba berat dan seorang kriminal.

Karirnya tumbang karena keterlibatannya—Dicky mengenal barang haram itu sejak umur 23—dalam  dua jenis kejahatan paling dibenci itu. Kejayaannya saat mengalahkan Sugar Ray Leonard, terus membayangi untuk bangkit. Ketidakmampuannya, baik lantaran usia yang sudah memasuki 40 tahun, juga kecanduannya pada narkoba, lantas disalurkan lewat Micky Ward (Mark Wahlberg).

Bukan cuma Dicky saja yang menyokong Micky. Seluruh keluarganya, terutama Ibu mereka, Alice Ward—yang sangat brilian diperankan Melissa—berperan aktif membangun karir Micky. Melissa cocok sekali memerankan seorang nenek cerewet, ibu penyayang sekaligus mengekang.

Alice, ibu beranak sembilan ini bahkan sampai-sampai pemimpin ‘serangan’ ke wilayah paling pribadi dari Micky.

Diketahui, Dicky selama sepuluh tahun berkarir di bawah manajer dan pelatih dari keluarganya sendiri, tidak ada satupun gelar yang bisa dibanggakan. Sampai kemudian ia ditawari bermain profesional asalkan meninggalkan keluarga.

Ini pilihan sulit. Micky dihadapkan hanya pada dua alternatif:  meninggalkan kehangatan keluarga yang selalu menyokongnya, atau mengejar karir. Sang kekasih, Charlene Fleming (Amy Adam), dituduh sebagai biang onar. Micky membela. Pecah kongsipun terjadi.

Dicky tidak bisa diharapkan. Tindakan kriminal yang dilakukan—yang sebenarnya untuk membantu adiknya sendiri—tidak dapat diandalkan. Dicky terlalu jauh membimbing Micky dari penjara. Sementara Alice, sanga Ibu, terlalu mendikte.

Namun, film produksi Paramount Pictures ini mudah sekali ditebak. Ending-nya selalu diakhiri dengan kemenangan: juara dunia WBU. Juga, harus ada  pesan positif yang bisa disampaikan. Dicky kembali normal dan menjauhi kejahatan, setelah berhasil mendampingi lagi adiknya sebagai pelatih. Keduanya, berhasil membangkitkan gairah kota kecil Lowell, Massachusetts.

Saya melihat film ini agar berat sebelah. Alice, begitu perhatiannya pada Micky yang meski pecandu narkoba dan pelaku tindak kriminal. Sementara, pada Micky, yang sebenarnya sangat berpotensi, justru  selalu disudutkan dan menyalahkan, meski tujuannya untuk keberasilan dalam tiap pertandingan. Tapi, barangkali benar juga karena mungkin kisah nyatanya demikian.

Sedikitnya kita bisa mengambil hikmah. Kehangatan keluarga ternyata bisa membawa kesuksesan. {]

Bojong Kulur: 0103011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s