komunikasi

Serangan Balik Media Sosial


image-58688150526214921

“Just setting up my twitter”. Begitulah. Kalimat yang sederhana dan simple. Namun, siapa sangka dari sanalah kemudian segalanya berubah.

Adalah Jack Dorsey, orang pertama yang mempublikasikan pesan twitter pertama pada 21 Maret 2006. Dorsey barangkali tidak menyangka medium-interaksi yang awal diciptakannya untuk kalangan internal kini berkembang begitu cepat. Kreatifitas yang dibangun Dorsey boleh jadi melampaui apa yang diperkirakan semula. Begitu mengesankan. Tetapi sekaligus mengancam.

Mengesankan karena melalui media sosial, kita dengan mudah terkoneksi dengan siapa saja. Sebelum media sosial berkembang, komunikasi umumnya dibangun dengan cara horizontal. Kini, tanpa hambatan birokrasi, siapapun dapat menyampaikan pesan kepada presiden sekalipun.

Media sosial sisi lain juga memberikan ancaman. Kita yang menjadi bagian dari jejaring sosial tak luput dari dampak yang ditimbulkannya. Ketika anda membuka diri, maka anda pun harus siap “dimasuki” orang lain.

Termasuk, ketika komentar atau informasi yang anda sampaikan ke publik mendapat kritik bahkan cemoohan. Itu masih bagus, kalau sampai dipidana, krisis namanya. Apakah anda siap menghadapi serangan balik ini?

Kasus terbaru adalah Dewi Septiani, penjual bubur yang pertama kali menginformasikan adanya beras plastik. Melalui media sosial, cerita Dewi kemudian menjadi isu nasional. Bahkan, menjadi perhatian para menteri dan penegak hukum.

Bumbu dari cerita Dewi pun meluas tak terukur. Dari sekedar obrolan ibu-ibu di kampung hingga isu perebutan kursi menteri. Ujungnya, Dewi kini diperiksa sebagai saksi. Meski belum jelas, ujungnya akan seperti apa, yang jelas, Dewi mengalami kerepotan atas laporannya sendiri.

Apa yang dialami Dewi—juga kasus-kasus sebelumnya—perlu mendapat perhatian serius kita semua. Pembelajaran penting dari sini: dalam media sosial, apapun bisa saja terjadi. Dukungan yang semula kita harapkan, bukan tidak mungkin berubah menjadi serangan balik. Niat baik seringkali bertransformasi menjadi kuda liar yang dikendalikan entah oleh siapa. Dan, menyerang tanpa kita siap.

Ketika semua itu terjadi, artinya anda telah berada dalam posisi krisis. Lantas, bagaimana kita bersikap? Tetaplah tenang dan endapkan informasi apapun yang menyerang anda. Carilah fakta-fakta yang benar mengenai informasi itu.

Jangan terlalu lama. Begitu mendapatkan fakta yang benar, berikan tanggapan. Jangan biarkan publik berspekulasi. Terbukalah kepada publik. Tunjukkan emosi anda sebagai seorang manusia biasa yang memiliki perasaan. Dan, jangan sekali-kali menunjukkan kekuatan. Publik biasanya justru menghindar. Kekuatan identik dengan kesombongan.

Dan, akuilah jika anda salah. Minta maaf segera. Semakin anda berbohong kepada publik, percayalah simpati akan hilang dengan cepat.[]

Depok, 3 Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s