komunikasi

Dalam “Ancaman” Jurnalisme Warga


image

Beberapa saat setelah bom Thamrin meledak Kamis (14/1), dunia media sosial juga “meledak”. Ratusan informasi bertebaran dalam waktu singkat, dalam   bentuk teks, video dan foto. Berita membanjiri timeline facebook, Instagram, Line, Twitter, Path, Whatsapp, dan BBM. Isinya simpang siur, baik tentang korban maupun lokasi ledakan. Konon, bom meledak juga di beberapa titik.

Sebagian menganggapnya hoax. Tapi…kalau hoax mestinya hanya berlaku di media sosial, yang pelakunya warga. Kalau yang menyiarkan televisi berita, apakah bisa dikatakan hoax? Apakah semudah itu redaksi memutuskan untuk menayangkan informasi yang belum terkonfirmasi? Konyol sekali.

Apakah terfikirkan bahwa informasi yang ditayangkan “televisi merah” dan “televisi biru” itu bakal menimbulkan keresahan? Sebab, banyak juga yang mereferensi informasi itu dan disebarkan. Sudahkah mereka memikirkan itu? Kalau ingin mencari rating atau ingin menjadi televisi “memang beda” tidak usah gitu-gitu amatlah.

Ya sudah, lupakanlah. Toh, akhirnya masyarakat sudah pintar memilih mana berita sensasi dan jujur. Lagi pula untuk mengeceknya juga banyak cara, kok. Salah satu yang harus diacungi jempol adalah tagar #SafetyCheckJKT. Di sini kita bisa mengetahui apakah lokasi di sekitar kita aman. Yang  terlihat justru masyarakat memberikan berita lebih jujur dibandingkan “televisi merah” dan “televisi biru” tadi.

Ini agak lucu. Mestinya, televisi berita yang memiliki wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bisa  mengkonfirmasi sebuah informasi sebelum disiarkan. Beda dengan jurnalisme warga yang tidak memiliki struktur redaksi dan karenanya mudah terjerumus hoax. Dalam kasus bom Sarinah peran redaksi seolah diambil alih oleh warga melalui tagar #SafetyCheckJKT.

Di era media sosial seperti ini, media mainstream tidak bisa lagi seenak-enaknya. Kontrol semakin ketat. Dan, bukankah yang terjadi saat ini justru jurnalisme warga mulai dijadikan sumber berita media mainstream. Menjaring isu dan kemudian mengembangkannya.

Seperti dikatakan Henry Jenkins, di era media digital seperti saat ini kita dihadapkan masyarakat yang senang berbagi dalam suasana media yang makin terkonvergensi. Itu artinya, media harus siap bersaing–jika tidak ingin dikatakan ancaman–dengan konsumennya sendiri dalam lingkup yang makin luas dan menyatu. []

Bojong Kulur,15 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s