komunikasi

Bom Thamrin Lahirkan Gimmick Informasi


image

Sisi lain tragedi bom Thamrin menarik untuk diikuti. Media sosial yang berkembang begitu pesat belakangan ini berperan besar menciptakan gimmick dari sebuah peristiwa.

Di tengah begitu besarnya kekhawatiran akan aksi teroris, gimmick–di Indonesia diartikan sebagai aplikasi kreatif–ini seolah menjadi penentram. Hiburan tersendiri. Bahkan bisa berevolusi secara cepat menjadi “penekan”, penguat dan pemersatu sikap: melawan ketakutan. Maka muncullah tagar #KamiTidakTakut yang mendunia itu.

Jurnalisme era digital jelas telah menggeret peran serta warga secara langsung untuk menyuarakan sikapnya. Cukup banyak foto, video, juga teks yang bersumber dari warga, yang kemudian didistribusikan, diolah ulang oleh media mainstream. Maka, makin maraklah pemberitaan seputar bom beserta gimmick-nya.

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah media sosial akan menggeser peran media mainstream. Kelihatannya belum sejauh itu. Paling tidak ada perbedaan jelas diantara keduanya. Jurnalisme mainstream membutuhkan verifikasi informasi. Di sinilah wartawan dibutuhkan. Sedangkan jurnalisme warga akan mengoreksi dirinya sendiri ketika dianggap informasi yang menyesatkan tersebar. Counter biasanya akan selalu ada. Dalam kasus bom Sarinah muncullah tagar #SafetyCheckJKT untuk menepis isu bom juga meledak di beberapa lokasi.

Counter sebuah isu memang tidak bisa dijamin kebenarannya. Tapi, pada umumnya yang terjadi adalah warga akan merefer pada media mainstream yang terpercaya atau sumber resmi. Artinya hubungan media sosial dan media mainstream sama dibutuhkannya.

Yang jelas, kreatifitas menghibur di tengah kegalauan tidak terjadi di media mainstream. Seorang netizen dengan jelinya, misalnya, memposting tukang sate yang begitu tenang  berdagang melayani pembeli, meski jarak ledakan hanya 100 meter. Aksi ini dikesankan sebagai representasi sikap dalam tagar #KamiTidakTakut. Kemudian bermunculanlah postingan serupa yang tidak kalah menariknya.  Maka, makin tegaslah pesan tagar itu: Indonesia tidak takut.

Bukan cuma itu, aksi polisi dalam melumpuhkan teroris juga dikomentari. Misalnya, sosok polisi ganteng yang ikut mengepung teroris. Dibuatlah tagar #KamiNaksir. Komentarnya beragam. Tagar ini menjadi gimmick yang cukup memancing perhatian. Apalagi, polisi tersebut menggunakan seragam dan aksesori yang dikabarkan branded dan mahal sehingga makin terlihat keren.

Sajian informasi seperti ini (informasi utama beserta gimmicknya) rasanya tidak pernah dijumpai sebelum era media sosial. Suara warga akan tersaring di meja redaksi sebelum akhirnya dimuat. []

Bojong Kulur, 15 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s