komunikasi · sorotan

Terbongkarnya “Kebohongan” Tawan: Sebuah Kritik untuk Media


image

Foto:drvasishths.com

Media memberikan peran begitu besar dalam kedudukannya sebagai pengusung popularitas: pada wujudnya yang protagonis maupun antagonis.

Kita saat ini semakin sulit membedakan  kebenaran informasi. Media sosial yang tumbuh begitu cepat telah mengubah suatu makna. Dalam bukunya “Jurnalisme Era Digital” Ignatius Haryanto menyebut, kata berita dari sebelumnya dimaknai sebagai mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi menjadi peristiwa yang sedang terjadi. Penyebaran informasi mengalahkan kecepatan verifikasi. Repotnya, media arus utama yang mestinya memiliki wartawan untuk melakukan verifikasi ikut-ikutan arus media sosial.

Inilah yang terjadi pada kasus terbongkarnya “kebohongan” Tawan. Selama beberapa hari kita menerima informasi sepihak dari satu sumber: Tawan. Seolah tidak ingin terlihat tertinggal, awak media dan netizen berlomba mencari informasi dari sumber utama. Bengkel las Tawan lantas digeruduk. Seketika popularitas Tawan menggelembung bagai balon udara: mengangkasa tapi rentan meletus.

Belakangan, ketika Tawan jadi seleb, barulah muncul “gugatan” dari berbagai pihak atas hasil kerja Tawan. Ia dituduh melakukan kebohongan.  Kini media dan netizen ramai-ramai mengabarkan berita ini. Penyandingan sumber kedua sebagai penyeimbang sudah terlambat. Tawan terpojok.

Dalam era digital, kecepatan memang hal utama. Tetapi tentu harus tetap mempertimbangkan berbagai aspek. Prinsip jurnalistik, seperti diungkapkan Kustadi Suhandang dalam bukunya “Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk & Kode Etik” adalah seni dan keterampilan mengumpulkan, mengolah, menyusun dan menyajikan berita. Makna seni dan ketrampilan menjadi titik penting jurnalistik. Ketrampilan membutuhkan keahlian dan seni menuntut rasa. Kolaburasi kedua unsur penting inilah yang kemudian menuntut seorang jurnalis menghasilkan  informasi yang indah dalam rangka memenuhi kebutuhan hati nurani publik.

Indah adalah sesuatu yang diminati dan dinikmati. Bukan sekedar itu, secara ideal karya jurnalistik semestinya bisa mengubah sikap, sifat, pendapat dan tingkah laku publik. Kita lantas bertanya, apakah media sosial yang memberikan begitu banyak informasi pada publik memenuhi unsur-unsur itu dan kemudian kita simpulkan sebagai jurnalisme media sosial?

Yang jelas, media arus utama memiliki koridor yang harus dipatuhi. Ada etika di sana. Memiliki struktur jelas sebagai wujud pertanggung jawabannya pada publik. Serta, brand yang tentu bukan sekedar nama, tapi terkandung di dalamnya reputasi. Apalagi  tren yang berkembang saat ini, dalam menjaga  brand  tidak cukup hanya  berorientasi pada  produk (informasi)  saja. Perusahaan media juga mesti berorientasi pada konsumen (baca: pembaca/pemirsa) jika ingin brand-nya semakin kuat dan dipuja.

Nah, kalau pola-pola kerja media arus utama mengikuti cara media sosial, lantas apa yang membedakannya? Bukankah hal ini sama artinya dengan menurunkan strata brand. Dalam banyak kasus, tidak hanya Tawan, kita menyaksikan begitu serampangannya informasi disebar, sebut saja bom Thamrin. Publik dibuat panik,  cemas dengan kesimpang siuran informasi. Berita hoax, yang umumnya berada di area media sosial, kini merambah ke media arus utama. Lagi-lagi kecepatan penyebaran informasi mengalahkan kecepatan verifikasi.

Padahal, memulihkan dan meluruskan informasi jauh lebih sulit dibandingkan menyebarkannya. []

Bojong Kulur, 28 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s