bebas

EAT HAPPENS: Memadukan Jajanan Pinggir Jalan dan Menu Moderen


Di Bekasi saat ini sedang hits satu resto yang begitu digandrungi anak muda. Namanya, EAT HAPPENS. Dari penyebutannya saja sudah unik, seperti plesetan dari kalimat  dalam bahasa Inggris: apa gerangan yang terjadi.

Anda memang akan bertanya ketika memasuki rumah makan ini. Setidaknya, di muka pintu pelanggan akan dibuat melongo dengan begitu banyaknya tumpukan antean. Meski begitu, toh mereka rela saja menunggu giliran belasan menit untuk bisa dapat jatah duduk. 

Dari segi konsep, resto ini sebenarnya menyasar anak muda yang senang kongko-kongko. Setidaknya, makanan yang ditawarkan nyambung dengan lidah anak muda. Sebut saja burger, spaghetti, pizza, aneka pasta, ragam olahan roti (satu jenis yang paling digemari adalah long bread) dan minuman yang puluhan jumlah jenisnya. Kelebihan di sini, olahan makanan yang disajikan sangat variatif dan inovatif. Pelanggan diajak untuk merasakan pengalaman baru, yang belum pernah dijumpai di tempat lain. Tetapi di sisi lain, terlalu banyak pilihan justru akan membingungkan. Dari survei yang pernah dilakukan Nasional Geographic pilihan seseorang cenderung lebih buruk, jika dihadapkan banyak pilihan, kecuali sebelumnya telah ada reverensi.

Selain memanjakan selera anak muda, tempat ini juga menyediakan jajanan pinggir jalan seperti nasi goreng, bakso urat atau bakso sumsum, kwetiau, mie ayam, bahkan kue cubit. Oh ya, satu lagi, martabak  menjadi andalan resto ini. Pilihan rasanya betul-betul menggugah selera. Bahkan ada satu martabak yang diisi dengan lebih dari empat rasa berbeda. Ajib betul. Seperti juga pada menu anak muda, jajanan pinggir jalan ini disajikan berbeda, ada inovasi pada masakannya. Tujuannya jelas, ingin menjaring dua selera dengan rentang kelas dan umur: tua-muda dan menengah-atas. 

Ini juga terlihat dari ornamen dan interior yang dipasang. Ada meja makan yang menggunakan mesin jahit SINGER lengkap dengan kursi bakso dari kayu. Beberapa interior juga melengkapi kesan retro dengan dinding yang dibiarkan terbuka tanpa cat. Namun, pada bagian lain, sofa-sofa mungil minimalis menemani pengunjung di teras muka. Serta beberapa interior menegaskan kekinian. Meski menampilkan pada kelas yang berbeda, keberadaan interior dari dua genre ini terasa tetap menyatu dan tidak jomplang. Sebaliknya, membuat pelanggan betah berlama-lama. 

Dari segi pelayanan, mereka cukup responsif dan sopan. Terlihat betul pelayan yang semuanya anak muda ini, dilatih dengan serius. Hanya saja yang agak mengganggu adalah pembayarannya yang njlimet. Tiap kategori menu, konsumen diberikan nota yang berbeda dan pembayaran di kasir yang berbeda juga, tidak terintegrasi. Pelanggan diajak antre berkali-kali. Ini mengingatkan kita saat makan di food court
Secara keseluruhan, resto yang terletak di komplek perumahan Grand Galaxi City, Bekasi Selatan ini patut di coba. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s