sorotan

Menyembunyikan Kekhusyukan


​Ramadhan  beberapa hari lagi akan pergi bersama kenangan, keindahan dan kenikmatan di dalamnya. Tidak banyak orang yang bisa merasakan ketiga unsur itu sekaligus. Itu sebabnya, ketika Ramadhan berakhir, bukan suka cita yang muncul dalam diri orang-orang terpilih ini, melainkan kesedihan. Konon, di situlah kadar keimanan diukur. 

Sayangnya, menjelang akhir Ramadhan seperti ini,    mayoritas muslim di Indonesia justru mulai terpecah konsentrasinya.Tidak sukar untuk mencapai kesimpulan itu. Bandingkan saja dua tempat yang ekstrim: masjid dan mal. Jika yang satu berlomba belanja amal, yang lainnya sibuk berburu untuk memenuhi kebutuhan fisik yang tidak ada kaitan langsung dengan ibadah.

Masyarakat Indonesia memang terkenal gemar berbelanja. Jangan heran jika apapun yang didagangkan di sini hampir pasti terbeli. Kelesuan ekonomi rupanya tidak memengaruhi minat orang untuk menyerbu berbagai kebutuhan sandang, terlebih lagi pangan. Sebaliknya, sisi rohani yang seharusnya digenjot di akhir-akhir Ramadhan justru mengendur. 

Shaf di masjid-masjid kian hari kian maju (baca: jamaah berkurang). Bandingkan ketika awal Ramadhan, shaf jamaah bahkan sampai ke pelataran dan jalan. Sementara, pusat perbelanjaan justru berjejal. Apalagi, peritel mulai menggiring konsumen dengan berbagai tawaran menggiurkan. Rupanya tawaran Allah masih kalah menarik dengan tawaran pedagang. Bukankah sebaik-baiknya “berdagang” adalah dengan Allah?

Salahkan ini? Tidak ada jawaban iya atau tidak. Sebab, Idul Fitri telah dijadikan ajang untuk memanjakan keluarga. Di sinilah harmoni keluarga di bangun, setelah sebelas bulan tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Pada sisi keimanan, puasa dianggap sebagai ujian. Tatkala ujian terlewati, maka wajar jika disyukuri dan dirayakan. Masalahnya, persepsi perayaan selalu diidentikkan dengan materi. Tentu saja jika dilakukan dengan kewajaran tidak bermasalah. Repotnya, tidak sedikit dari kita yang memaksakan diri, sehingga lewat Ramadhan hidupnya justru makin sulit. Tumpukan kredit menggunung. 

Kemenangan dalam berpuasa tentu ukurannya bukan materi. Seberapa banyak kita membeli baju, makanan enak-enak, perabotan baru atau kendaraan baru. Ukuran keberhasilan selama Ramadhan adalah kedekatan kita terhadap Allah. Dan, yang hanya bisa mengukurnya adalah diri kita sendiri, sebab perubahan ketaatan dan ketaqwaan bukan bagaimana kita berperilaku yang disantun-santunkan. Keikhlasan dalam beribadah adalah bagaimana kita bisa menyembunyikan kekhusyukan. Maka, hanya kita yang tahu seberapa besar perubahan ketaatan kita. Menyedihkannya, banyak dari kita yang justru berfokus pada keberhasilan materi. Idul Fitri sering dijadikan ajang balas dendam untuk merayakan kemenangan semu terhadap diri sendiri, juga keluarga.Tidak sepenuhnya salah, sih. Bahayanya adalah jika usai Idul Fitri perilaku kita tidak berubah. Kalau sudah begitu patut dipertanyakan kekhusyukan kita dalam menjalankannya puasa. 

Memanjakan keluarga atau merayakan keberhasilan apalagi yang ujungnya berlabel silaturahim tentu baik-baik saja. Semua bisa berkumpul, setelah lama tidak berjumpa. Idul Fitri barangkali bagi masyarakat Indonesia sudah membudaya sebagai medium saling memaafkan sesama kerabat dan menyatukan kembali komunikasi yang terputus-putus. Ironinya, kebiasaan yang sudah baik ini tidak berlangsung secara berkelanjutan. Banyak yang menganggap atau merasa saling memaafkan itu sekedar basa-basi. Satu-dua hari lepas Idul Fitri lupa lagi. Komunikasi yang dibangun sirna seketika. Dan, kemudian dimulai lagi tahun berikutnya. Begitu terus hingga berulang-ulang. Tahun demi tahun. Coba lihat diri sendiri, lepas kumpul-kumpul kerabat, apa yang kita lakukan. Apakah komunikasi berjalan atau tidak. Dalam dunia yang tanpa batas, mestinya tidak ada lagi alasan untuk memutus komunikasi yang sudah terbangun. Benar kata Rasulullah, silaturahim memperluas rezeki. Kita tidak pernah tahu kesempatan itu datang dari mana. 

***

Bagi seorang muslim, Ramadhan tidak sekadar diartikan ladang berburu amal. Lebih dari itu, setelah Ramadhan manusia akan kembali Fitri, seperti bayi baru lahir. Layaknya  bayi yang keluar dari rahim seorang ibu,  tentu ia terbebas dari dosa. Hanya di dunia-lah seseorang lantas memasuki fase kehidupan yang tidak luput dari dosa. Manusia diberikan nikmat nafsu dan akal. Nafsu mengajak kita untuk optimis menghadapi hidup sementara akal yang mengendalikan. Ibarat mobil, nafsu mengajak kita berpacu, sedangkan akal adalah rem agar manusia tidak tertubruk dosa dan selamat sampai tujuan. 

Kedua Rahmat Allah yang diberikan kepada manusia itulah yang membuatnya menjadi makhluk paling sempurna. Sehingga pantas jika Allah mempercayakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi. Kita bisa membandingkan, bumi saat Adam dikirim ke dunia dan bumi saat sekarang. Banyak sekali terjadi evolusi kehidupan. Semua tidak lepas dari andil dua Rahmat Allah itu. Sepanjang perjalanan hidup manusia, tragedi selalu terjadi akibat ketidakseimbangan nafsu dan akal.

Allah Maha Tahu bahwa manusia memiliki banyak sekali kelemahan termasuk sulitnya bersikap adil terutama terhadap diri sendiri. Itulah sebabnya manusia selalu bersentuhan dengan dosa, yang terjadi karena nafsu tidak terkendali melebihi penggunaan akalnya. Karena kebesarannya, Allah lantas memberikan satu bulan khusus bagi umat Muhammad untuk bertobat. Di momen inilah sesungguhnya Umar Muslim digembleng agar dapat mengendalikan nafsu dan menyeimbangkan penggunaan akal dan hatinya. 

Puasa juga bermakna untuk mengasah rasa sosial dan empati kita. Tidak sekedar menahan makan, haus dan berhubungan suami-istri di siang hari. Puasa mengajak kita untuk jeli melihat realitas lingkungan sekitar. Al Quran selalu menyandingkan perintah shalat, puasa dan zakat. Sayangnya, tidak semua muslim melaksanakannya secara bersama. Melalui puasalah ketiganya dipadukan dan diseimbangkan. Maka, kita tentu berharap Ramadhan yang sebentar lagi kita lewati ini telah memberikan kesabaran dan muatan untuk istiqomah di jalan Allah. 

~SELESAI~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s