sorotan

Rusuh di Hari Fitri


OPINI

Siapa bilang Idul Fitri menjamin seseorang (kembali) bersih-suci dan Syawal yang artinya peningkatan mampu membawa kepada keimanan yang menebal. Buktinya, saat saya libur Lebaran 1437H tahun ini sebuah insiden terjadi. 

Seorang Satpol PP dihajar para preman yang merasa tempat rezekinya diusik. Kejadiannya berlokasi di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara, Jumat (8/7/2016). Ketika itu saya bersama rombongan, empat mobil, mencari parkir di pinggiran jalan karena semua tempat resmi sudah tidak lagi menampung. Beberapa preman mengarahkan kami ke pinggir jalan sebelah sisi kiri Museum Fatahillah. Saya melihat hanya dua mobil saja yang terparkir di sana. Ini mencurigakan, sebab di sisi jalan lain di sekitaran Kota Tua (yang kelihatanya diizinkan untuk parkiran) dipenuhi mobil-mobil. Saya pun bertanya pada keamanan, entah dari perusahaan mana. Ia menyarankan saya dan rombongan untuk memindahkan parkir di jalan Aceh saja, sebab sehari sebelumnya sudah empat mobil digeret paksa karena dianggap melanggar. 

Atas informasi ini saya tak ingin ambil risiko. Belum sempat kami memindahkan mobil, sebuah keributan terjadi tepat di depan mobil kami. Seorang Satpol PP yang bertugas menertibkan jalan dihajar beramai-ramai oleh sekitar (mungkin) 20 orang preman tanpa ampun. Seorang petugas Satpol PP lain tak berani membela dan memilih menyelamatkan diri. Beruntung, ada petugas polisi berpakaian sipil mengambil alih situasi. Tembakan peringatan dilepaskan tiga kali. Kawanan preman lari lintang-pukang. Nyawa Satpol PP terselamatkan.

Seperti kita pahami, puasa memang diperuntukkan untuk orang mukmin, bukan sekedar syahadat. Itu sebabnya, kita jangan terlalu heran jika selama Ramadhan kejahatan tetap terjadi, maksiat tetap berlangsung. Anda tentu tidak menoleh jika dipanggilan dengan sebutan yang bukan nama anda, bukan? Begitupun  orang Islam yang tidak mukmin pasti akan tidak acuh dengan seruan Allah untuk puasa dan mengendalikan hawa nafsu.

Saya sendiri tidak terlalu kaget dengan kejadian tersebut, meski saudara-saudara saya yang dalam satu rombongan heran bagaimana bisa di saat Lebaran, ketika orang kembali suci, di saat orang bersuka cita merayakan kemenangan justru ada segelintir  orang senang mencari kegaduhan. 

Mereka (para pengeroyok) mungkin bukan muslim? Ah, ini pertanyaan konyol. Memangnya kalau bukan muslim bisa memukuli orang seenaknya. Kalaupun muslim dan tidak berpuasa pun bukan alasan mereka bisa berbuat semaunya. Alasan apapun tentu tidak bisa diterima untuk sebuah tindakan kekerasan.

Karenanya, preman yang meresahkan seperti ini harus diberangus. Bisa dibayangkan jika saya dan rombongan nekat parkir di pinggir jalan itu. Risiko kendaraan digeret paksa sangat besar. Dan, apa preman parkir itu mau peduli? TIDAK. Begitu Anda ditagih parkir sepuluh ribu di muka, mereka langsung pergi, tanpa peduli dengan kendaraan Anda. Ini tidak hanya terjadi di Kota Tua saja. Di jalanan luar Istiqlal juga begitu, terutama saat sholat Jumat. Di Gelora Bung Karno Senayan sama saja. Mungkin juga banyak tempat lain melakukan hal serupa. Preman-preman ini seperti setan jelangkung: datang tak diundang pergi semau-maunya. Mereka hanya sibuk memarkirkan kendaraan masuk saja. Begitu selesai acara, itu sepenuhnya menjadi urusan pengendara. Tidak usah mengharapkan kehadiran preman parkir seperti ini, tidak akan muncul. Mereka seperti tertelan bumi.

Jadi, ketika Anda berurusan orang seperti ini, perasaan Anda harus netral. Jangan berharap lebih. Artinya, kita harus sudah siap dengan kondisi menjengkelkan yang mungkin terjadi. Kalau Anda punya kekuatan silahkan lawan. Jika tidak, lebih baik diam. Itu mungkin pilihan terbaik daripada babak belur dihajar preman yang modalnya hanya nekat.

Pun begitu dengan saya. Buat saya, yang terpenting bagaimana saya bisa memperbaiki kualitas keimanan diri sendiri dan kemudian keluarga. Soal orang lain, biarlah menjadi urusan mereka. Minimal saya tidak menyusahkan orang lain. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s