stori

Jigonine


Dengan langkah pasti ia memasuki gerbang SMPN 259, Taman Mini, Jakarta Timur. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah, yang merupakan pilihan kedua untuk jalur umum non DKI. 

Ada kegugupan yang ku tangkap dari wajahnya. Pokok soalnya bisa ditebak, ia akan menemui lingkungan baru, teman-teman baru, juga guru-guru baru yang jumlahnya tiga belas, sesuai mata pelajaran yang ditempuhnya. Tapi ada yang lebih membuatnya tak tenang: pakaiannya berbeda dari teman-temannya yang lain, putih-merah. Sementara ia memakai batik hijau Al Fajar. Gelisahnya rada berkurang, begitu secara pelan-pelan banyak siswa baru lain yang tidak memakai seragam putih-merah. Wajahnya mulai mengendur.
Anak sulungku  ini agaknya cukup pede pada lingkungan barunya. Setidaknya ada dua hal kenapa kesan itu aku tangkap. Pertama, saat apel ia mengambil posisi terdepan, sementara siswa lain berebut di baris  belakang. Begitu pun saat masuk kelas, ia memilih bangku terdepan tanpa keraguan. Memang, soal keberanian dan kepedean selalu kami tanamkan sedari dini. Bukan apa-apa, kelak, ia akan hidup di masa persaingan yang begitu ketat. Keberanian dan percaya diri modal utama, selain tentu saja keenceran otak.

Secara rata-rata kelas, anakku  bisalah dikategorikan lumayan. Di kelasnya, 7.7 ia peringkat kedua dengan nilai 89,6. Sedangkan peringkat pertamanya 90 lebih sedikit. Yang lainnya pada kisaran 70, dan terendah 57. Dengan posisi seperti ini semestinya ia bisa menjadi “macan” di kelasnya. Inilah sisi positif yang bisa diambil dari “terlemparnya” anakku di SMPN 128, yang menjadi pilihan pertama. Di sekolah ini  hanya menerima murid 13 dari non DKI. Persaingan terlampau ketat. Seandainya saja aku ber-KK Jakarta, niscaya ia bisa diterima di jalur lokal untuk sekolah favorit macam SMPN 81. 

Pada Jumat (15/7/2016) pagi ini, kegiatan diawali dengan apel tepat pukul 07.00, meski kami sudah hadir di sekolah pukul 06.15. Pembukaan sebentar oleh Wakil Kepala Sekolah Agus Suroto, sebanyak 396 siswa berbaris rapi. Wajah malu-malu dan semangat bercampur jadi satu. Tidak ada suara, karena boleh jadi mereka sungkan memulai percakapan baru dengan teman di sebelahnya. 

Di dalam kelas, siswa baru hanya diajari mars sekolah SMPN 259 dan lagu “masuk sekolah”. Setelah itu digelar lagi apel penutup selama sepuluh menit dan bubar tepat pukul 09.00. Hari Senin, 18 Juli 2016 secara resmi kegiatan sekolah dimulai dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari, bukan lagi MOS yang belakangan diprotes karena banyak kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan dan cenderung “permainan” fisik dan membahayakan. 

Ini dapat dilihat dari tidak terlibatnya kakak senior dalam kegiatan MPLS. Semua di bawah kendali guru. Siswa senior hanya berperan sebagai asistensi guru. Juga tidak ada hal-hal aneh yang dipersyaratkan. Soal pakaian siswa baru selama MPLS dipersilahkan menggunakan seragam asal SD masing-masing. Siswa hanya diminta untuk membuat name tag sendiri dengan ukuran panjang 15 cm dan lebar 10 cm. 

Sedangkan pada Kamis menggunakan batik sekolah atau jika sudah punya seragam putih-biru bisa mengenakannya. Sedangkan hari Jumat menggunakan pakaian muslim. Dilihat dari materinya, MPLS bisa melegakan, seperti pengenalan lingkungan sekolah. Tata tertib dari dinas pendidikan. Visi dan misi SMPN 259. Cinta Lingkungan. Bahaya narkoba. Bahaya pergaulan bebas. Pengertian ekskul. Dan, nasionalisme. Semua materi ini bila diajarkan dengan benar nyata-nyata bisa memberikan bekal sangat positif buat siswa.

SMPN 259 atau panggilan gaulnya  jigonine memiliki prestasi ciamik. Salah satunya penerima sekolah Adiwiyata, Juara I dan III kompetensi IPA dan wakil DKI untuk lomba science tingkat nasional. Prestasi kesenian juga lumayan, sering menggondol juara, salah satunya adalah seni tari. Satu-satunya penghambat yang membuat sekolah ini tidak dapat meningkatkan grade-nya adalah masih banyaknya rombongan belajar (rombel) yang menyebabkan adanya shift kelas. Sementara pengembangan sekolah tidak dimungkinkan karena berada di kawasan padat perumahan. Opsi pemotongan kelas baru mendapat protes SD sekitar. Maka, jadilah akreditasi SMPN 259 stag, mandek. 

Dari semua kondisi itu, semua tentu saja bergantung pada individu. Siapa yang dapat memanfaatkan keunggulan ia akan menang. Yang tertinggal tetap saja jadi pecundang. Sekolah adalah bagian dari pendidikan anak, bagian lainnya ada pada orangtua. []

Bogor, 15 Juli 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s