sorotan

Biar Kere Asal Eksis


PARODI

Anda tahu tren yang terjadi di banyak kota besar, khususnya negara berkategori emerging market saat ini? Kaum urban di negara yang tengah menuju jadi negara maju ini  berlomba untuk eksistensi demi gaya hidup dan pergaulan. Apapun dikorbankan untuk memuaskan egoisme materialistiknya. 

Tetapi anehnya, kelas menengah tanggung seperti ini justru menghilangkan kebutuhan esensi sejati seorang manusia: kepercayaan diri. Coba saja Anda simak kisah-kisah miris mereka untuk berkuat tenaga tampil sempurna pada dunia yang bertopeng. Cerita kaum kere berlagak sok kaya ini, kini sedang menjadi perbincangan di jagad maya. 

Di Mumbai, India, seperti dikutip dari laman buzzfeed pada 5 Mei 2016, para pekerja muda di kota itu sampai ada yang rela tidur di mobil demi untuk dapat membayar cicilan mobil impian, karena gajinya tak cukup untuk sewa sekotak flat, apalagi mencicil rumah. Ada yang tega menganiaya diri sendiri, tidak makan seharian hanya untuk sarapan di cafe bersama kolega  dan memesan sepotong roti seharga 250 ribu rupiah. Mereka cekakakan  sesungguhnya menertawakan nasib perutnya yang tak bakal terisi siang dan malam nanti.

Model begini ada juga di Jakarta. Sebuah posting-an dari seorang teman menceritakan tentang berat tubuh kawannya yang terlihat menurun. Ketika ditanya ia mengaku akibat latihan jogging saban sore selepas pulang kantor. Tapi, pengakuan ini terasa janggal, karena fakta tak menunjukkan demikian. Lagi pula setiap kali diajak makan siang selalu beralasan, “sudah makan tadi.” 

Belakangan, ia mengaku tak memiliki uang  untuk sehari itu karena sudah terkuras saat makan di cafe. Kalau pun terpaksa makan, mereka berkalan melipir, tengok kanan-kiri, ke warung pinggir jalan. Bagi yang tidak memiliki mobil, mereka gengsi ketika diajak bareng pulang bersama teman kantor, dengan alasan masih ada kerjaan. Begitu kantor sepi, mengumpulkan uang receh untuk pulang naik bus umum. 

Cewek-ceweknya lebih ngeri lagi, tidak sayang menggesek kartu kredit hingga meminuskan gajinya demi mendapatkan kosmetik, tas, sepatu, baju, gawai bermerek yang kekinian. Soal bagaimana nanti, tak diambil pusing, asal saat itu bisa eksis. Pekerja muda umur dua-puluhan itu punya alasan tersendiri. Prinsip mereka,

Untuk mendapatkan uang besar, harus mengeluarkan uang besar. 

Rupanya kaum urban yang bergaya seperti ini  sering mendapatkan referensi tokoh yang salah. Boleh jadi mereka  merujuk pada kisah sukses seseorang yang menghambur uang demi menunjang karir. Padahal yang banyak tidak diketahui, perjuangan mereka menempuh kesuksesan tentu penuh aral. Keprihatinan berbeda dengan sikap boros. Para urbanis sengaja “memiskinkan” diri untuk kesuksesan semu. Tujuan belum tentu tercapai, kere sudah pasti. Yakinlah, walau pendapatan lebih besar bisa diperoleh, tuntutan untuk bergaya hidup lebih besar lagi akan selalu meneror. Tak akan berujung.

Sementara, keprihatinan adalah sikap kesahajaan, lebih menahan dan menata diri. Orang bersahaja tidak identik dengan miskin lho ya. Mereka ini malah memiliki kekayaan berlimpah: rasa bersyukur. Sikap menahan diri yang bercampur dengan rasa syukur menghasilkan energi maha dahsyat dan stamina panjang dalam mencapai mimpi sejatinya.

Oh ya, jangan lupa tidak sedikit pekerja “selebritas” yang adalah pemegang bisnis warisan. Lha, kalau berkiblat pada tata cara yang berlaku pada mereka, mana mungkin terkejar mimpi-mimpi semu itu. 

Jujur, saya awal-awal sering merasa minder jika melihat gaya hedonis seperti itu. Ganteng dan cantik. Di tubuhnya menyeruakkan  wewangian. Pakaiannya rapi. Di tangannya melingkar jam mewah. Di genggamannya tererat gawai terkini.  Dan, sarapan di cafe yang uap udaranya kinyis-kinyis. Dengan penuh keyakinan mereka melangkah demi menggapai mimpi semu. 

Saya jadi sering bertanya, apakah kepercayaan diri itu harus berbalut dengan kemewahan? Apa bisa ya, saya yang hanya bersepatu Bata,  beli baju juga di gerai Matahari dan jam tangan hasil orang melego di pasar Urip, Jatinegara, punya kesempatan eksis pada dunia yang sumir. Apa kira-kira menurut Anda saya pantas bergaul dengan mimpi-mimpi mereka untuk sebuah kesuksesan, padahal saya dan mereka berada dalam rentang yang jauh? 

Atau, barangkali mereka yang benar dan saya yang salah menempatkan diri. Tak pantas bergaul dengan mimpi-mimpi mereka. Mereka terlalu percaya diri dalam balutan keduniawian. Saya hanya bermodalkan nekat pada apa yang menempel di tubuh saya (baca: selalu merasa bersyukur). Boleh jadi tulisan ini hanya dianggap orang sakit hati dan iri. Apa begitu, ya? Ah, biarlah yang penting saya masih bisa makan siang hari ini. Tidak masalah jika tak eksis, asal tidak kere. 

~SELESAI~

foto: birokrasi.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s