bebas

Koreksi Intrapersonal Lewat Bahasa


RESENSI

Sebuah karya lawas yang asyik untuk dibaca ulang.

Judul: Madu Prahara
Penulis: Motinggo Busye
Penerbit: PT Balai Pustaka (Persero)
Cetakan: II, 1993
ISBN: 979-407-165-X

Motinggo Busye menyelipkan pesan moral yang sangat kuat dalam novel Madu Prahara. Betapa hidup dalam prasangka dapat mengakibatkan keruwetan yang tidak akan pernah diduga, bahkan disesalinya seumur hidup. Banual selalu mengisi otaknya dengan begitu banyak prasangka termasuk terhadap istrinya sendiri. Entah, ia tidak dapat membedakan antara cemburu—cinta yang kelewat berlebih—dengan syakwasangka pada tubir kepercayaan yang paling rendah.
Tungku hati Banual gampang sekali terjerang. Rasa takutnya dengan mudah bertukar menjadi semacam kebodohan dan kegilaan hingga tega menikamkan belati ke dada Sumilah, istrinya yang sedang bunting tua. Pokok perkaranya adalah ia merasa terhianati oleh dua orang yang paling dekat sekaligus: Sahidun, karyawan pabrik kepercayaannya dan Sumilah, orang yang paling dicintainya. Tuduhan serong di antara keduanya tidak didasari atas kesaksian dan bukti-bukti kuat (baca: kepergok), kecuali hanya beberapa kali saja Banual melihat truk pabrik yang disopiri Sahidun mampir ke rumahnya menemui Sumilah untuk urusan pabrik.

Jiwa penuh prasangka—yang boleh jadi karena pengalaman pahit sebelumnya—ini terus terbawa Banual hingga masa tuanya. Terhadap anaknya sendiri, Bastian, Banual bahkan menaruh prasangka buruk. Dituduhnya Bastian main serong dengan ibu tirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan bapak-anak ini sekian lama tidak terlibat dalam obrolan layaknya keluarga selama dua puluh tahun. Keduanya hanya tersambung dalam hubungan industrial, majikan dan karyawan.

Kasih sayang Bastian sebagai seorang anak sebenarnya ditunjukkan dengan memberitahukan pada bapaknya tentang kelakuan beberapa buruh pabrik yang berbuat kurang ajar seperti mengencingi gentong-gentong santan kelapa. Banual disosokan sebagai orang yang sebenarnya sering sembahyang, tetapi kerap cekcok mulut dengan buruh-buruhnya. Pemecatan sering terjadi. Tidak heran jika ada yang terindikasi ingin membakar pabrik minyak kelapa milik bapaknya. Pesan dari Bastian sering dianggap angin lalu oleh Banual. Tumpukan-tumpukan persoalan seperti ini pada akhrinya makin menyumpal komunikasi antara bapak dan anak.

Satu-satunya pemecah pembicaraan adalah keinginan Bastian sendiri untuk mengakhiri kebuntuan, sebab ia sesungguhnya teramat sayang terhadap bapaknya. Ia berharap ada kewajaran perlakuan bapak terhadap anak, begitu pula sebaliknya. Tapi, keinginan itu disambut Banual dengan prasangka terhadap anaknya—Bastian mengakui bahwa Giyem, istri kedua bapaknya itu memang seringkali memancing untuk suatu hubungan, tetapi nyata-nyata tegas ditampik Bastian bahkan dengan menempeleng pipi Giyem. Bastian ingin bapaknya menceraikan Giyem yang semula dianggap ibu kandungnya itu. Maka, kekerasan hati keduanya makin menjadi.

Sampai di sini, Motinggo masih ingin menekankan betapa berbahayanya hidup dalam prasangka. Sampai-sampai diceritakan, Banual ingin mengulangi kebiadabannya terhadap Sumilah dulu, jika ia tidak ingat Bastian adalah titisan darahnya sendiri.

Walaupun latar cerita pada masa sebelum kemerdekaan, sekitar 1937—satu-satunya tahun yang disebutkan dalam cerita, yakni tahun yang tertera pada nisan Sumilah—namun pesan yang disampaikan tetap kekinian. Banual mungkin adalah kita. Orang yang terkungkung dalam ketakutan dan penuh sangkaan. Agama mengajarkan agar selalu berbaik sangka dan tabayun, mencari kebenaran. Prasangka bisa menuntun kita pada malapetaka. Terhadap diri sendiri saja kita terkadang sulit mengkonfirmasi apakah sebuah informasi benar atau tidak. Lihat saja Banual bagaimana enggannya ia menanyakan pada Bastian tentang prasangkanya sendiri bahwa anaknya main gila dengan istrinya. Sesunguhnya Banual adalah pria penakut. Takut terhadap pikirannya sendiri. Pembicaraan tentang kebenaran sangkaan itu selalu dikunci rapat-rapat. Tidak berlebihan jika Madu Prahara adalah upaya Motinggo mengkoreksi diri melalui bahasa dengan tanpa menggurui.

Secara wajar Motinggo menggambarkan bagaimana rasa dendam itu. Tak mungkin, Bastian tidak memiliki dendam terhadap seseorang yang membunuh ibu kandungnya, terlebih itu bapaknya sendiri. Suatu kali ia mencari kesempatan untuk menghabisi bapaknya di saat terlelap. Tapi, di sinilah hebatnya Motinggo, ia tidak ingin pembaca terlarut dalam cerita dendam tak berkesudahan. Ketika Bastian mengangkat palu untuk meremukkan batok kepala Banual, tiba-tiba kekuatannya hilang, tangannya bergetar, keringat dinginnya mengucur. Palu yang semula gagah diangkat, mendadak roboh ke tanah. Banual bangun, dan ia memaafkan.

Saya semula menduga ada adegan cengeng di sana. Tangisan, peluk-pelukan. Ternyata tidak. Lagi-lagi dengan alami Motinggo melukiskan bahwa hubungan yang sekian lama beku, apalagi ada kebencian di sana, ada kesumat yang mengeram, tidak serta-merta cair karena sebuah kejadian. Bastian dengan gagah ingin berhenti bekerja pada pabrik bapaknya, dan meminta pesangon. Banual yang sudah sering sakit-sakitan itu, bagaimana pun, menunjukkan rasa kasih-sayang sejati terhadap anaknya. Direngkuhnya tangan Bastian, digenggaminya sejumlah uang. “Itu bukan tambahan gaji. Itu dari Bapak,” suara Banual berat.

Dialog ini meski singkat tetapi memiliki makna teramat dalam. Pertama, pada kalimat “Itu bukan tambahan gaji,” menghargai Bastian yang sejak semula sudah menganggap hubungannya selama ini adalah antara majikan dan karyawan. Itu terlihat dari permintaan Bastian sendiri yang meminta uang pesangon atas pengunduruan dirinya. Kedua, kalimat “Itu dari Bapak,” merupakan kalimat yang memiliki makna kedekatan, usaha dari Banual yang sesungguhnya ingin memperbaiki hubungan. Tetapi Bastian sudah menentukan sikap. Memutuskan untuk mandiri, mencari hidup sendiri, kawin, di kampung yang penuh memori, Kupangkota. Kota dimana ibu sejatinya dibaringkan.

Sebelum masuk pada fase kehidupan baru Bastian, sebenarnya masih banyak cerita yang menurut saya masih mungkin untuk berkembang. Hentakan cerita yang semestinya dramatis, jika tidak cermat membacanya akan terasa datar. Tetapi, nampaknya Motinggo lebih memilih makna ketimbang cerita yang dipanjang-panjangkan. Gaya bertutur sastrawan yang wafat pada 18 Juni 1999 ini diakui sejumlah kalangan bernilai sastra tinggi. Struktur bahasa yang tidak lazim dan pemilihan diksinya sungguh memperkaya dan mampu merawat bahasa.

Lembaran Baru

Kehidupan baru Bastian dimulai dengan menyembunyikan jati-dirinya. Ia tidak memperkenalkan nama aslinya, tetapi Abas. Ya, nama Bastian ingin dihindari karena ia tidak berkehendak identitasnya diketahui banyak orang, terlebih ia adalah anak seorang pelarian yang pernah membunuh istrinya. Dalam batin Bastian, itu tidak boleh terjadi, karena akan menghambat dirinya untuk berkembang bersama usaha dan keluarganya, kelak. Abas tidak ingin hidup dengan bayang-bayang kelam. Di Kupangkota, Abas mampu mandiri dengan membuka grosir beras dan toko buku.

Di sinilah cinta itu dimulai bersama dengan dilemanya. Seperti pada umumnya pertemuan, Abas yang sejak kehadirannya di kota teduh itu tertarik pada seorang gadis tidak mampu untuk memulai pembicaraan dengan alasan klasik: malu. Tapi takdir terkadang berpihak kepada orang yang sedang jatuh cinta: si gadis—tanpa sengaja—justru menghampiri toko buku milik Abas. Dan, dialog pun terjadi. Selanjutnya, cinta bersemi antara Abas dan Tatiana. Pada titik ini semua bisa diduga, hanya kemesraan yang terlukis.

Madu Prahara menggunakan teknik call back adegan dalam bercerita. Ini terlihat jelas saat Banual yang sedang mabuk cinta, rela berpindah agama mengikuti istrinya Sumilah yang seorang muslimah. Bukan saja agama, Banual rela meninggalkan Manado untuk seseorang yang dicintainya. Pada cerita asmara Abas, Tante Cor—demikian Abas menyebut ibu Tatiana—secara halus dan tegas meminta hubungan mereka diakhiri, juga karena alasan agama. Kali ini Abas yang sukarela mengikuti keyakinan Tatiana, yang seorang Kristen. Saya menduga, alur ini dibuat untuk keberimbangan agar (mungkin saja) tidak ada yang tersakiti karena cerita ini menyeret isu sensitif yang ketika itu masih sangat rawan, dan menuntut stabilitas.

Ini bukan akhir dari cerita. Kisah pernikahan sepasang kekasih ini berlanjut pada babak yang paling menentukan. Mereka kini memiliki seorang putri cantik, berkulit putih kuning. Di tengah kebahagian itu, pada Jumat pagi, Tatiana mengajak Abas mengajak ke kuburan ibunya. Dengan perasaan heran Abas bertanya karena Tante Cor masih hidup. Perlahan pertanyaan itu terjawab sendirinya dengan perasaan kaget tak terperi. Pada sebuah nisan, di situ tertera nama Sumilah, wafat pada tanggal 21 Maret 1937.

Tatiana bercerita, Tante Cor adalah ibu angkatanya, setelah merasa tidak tega terhadap dirinya yang ditinggal mati ibunya begitu melahirkan, tiga hari setelah seorang lelaki, yang ternyata suaminya, menikamkan belati di dadanya. Tatiana melanjutkan, lelaki yang dikutuki orang sekampung itu lari membawa serta anaknya, Bastian. Abas berusaha tenang dengan kenyataan pahit yang dihadapinya. Di kepalanya berkecamuk perasaan yang campur aduk dan seabrek pertanyaan yang kusut. Haruskah melanjutkan cinta terlarangnya secara diam-diam. Berterus terang yang berarti meruntuhkan hati istri sekaligus adik yang begitu dicintainya. Atau, menyimpannya dalam-dalam dan mencari perkara agar dapat berpisah.

Abas memilih pilihan ketiga. Ia sekuat tenaga merahasiakan luka-lukanya. Terhadap jati diri sebenarnya. Terhadap kenangannya. Bastian tetap dikubur bersama sejarah kelam ayahnya. Dibiarkannya Tatiana menyimpan kebencian begitu rupa atas kelakuan dirinya yang sengaja dibuat buruk agar menjauh dan tak lagi mendekat.

Pada akhirnya harapan Abas terjawab, Tatiana bersuami lagi. “Aku berlutut di bawah singgasana hatiku sendiri yang sanggup mengatasi porak-poranda kehidupan,” Abas dalam hati seperti berdoa.

Kekuasaan Tuhan, di atas Kekuasaan Manusia! Begitu novel itu ditutup sebagai sebuah kesimpulan yang tegas dan terang benderang.

~SELESAI~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s