komunikasi

Dunia Tanpa Titik


Judul tulisan ini rasanya lebih menarik jika digunakan untuk novel, cerpen atau puisi. Sangat syarat tanya dan mengandung unsur kejutan, kira-kira apa maksud dunia tanpa titik. Spekulasi dan rasa penasaran menjadi kunci penting dalam pembuatan sebuah judul. Tetapi saya tidak sedang membicarakan itu. Ini sebuah survei, jadi tidak ada duga-menduga. 

Sebuah artikel di kompas.com memuat sebuah penelitian menarik yang dilakukan Birmingham University. Penelitiannya begini: jangan akhiri pesan singkat dengan titik, karena dinilai tidak tulus dan tidak ramah.

Survei ini jelas menabrak pemahaman kaidah penggunaan tanda baca yang dikenal selama ini. Tentu kita semua paham, tanda baca dapat berfungsi mewakili keinginan dan bahkan perasaan si penulis agar pesan tersampaikan dengan baik, tidak meleset.

Dalam tatacara penggunaan bahasa tertulis, kita sarankan mengakhiri kalimat dengan tanda baca. Saat bertanya, selain struktur bahasa dan pilihan kata, kalimat semestinya berakhir dengan tanda tanya. Begitu juga dengan kalimat perintah, kita disarankan untuk menyertakan tanda seru pada akhir kalimat. Sedangkan untuk kalimat penjelas (bersifat umum) gunakan tanda titik.

Cara penggunaan tanda baca seperti itu, saat ini rupanya bergeser. Celia Klin, pimpinan penelitian menjelaskan, tanda titik yang bersifat netral atau positif, jika diterapkan pada pesan singkat—di ragam medsos—bisa diartikan sebaliknya. Penerima pesan akan menganggap si pengirim pesan tidak tulus dibandingkan dengan jawaban tanpa titik.

Lebih mengerikan lagi, ada anggapan tanda titik pada pesan singkat tidak sekadar tanda baca, tetapi bentuk penyerangan psikologi terhadap teman. Berlebihankah? Setidaknya penelitian ini dilakukan terhadap 126 mahasiswa yang dimintai penilaiannya terhadap dua bentuk dari percakapan yang sama dalam dua media berbeda: memo yang ditulis tangan dan pesan singkat.

Medium komunikasi nampaknya ikut memengaruhi kesan terhadap tanda titik. Sebab, dalam penelitian itu, responden tidak memperlihatkan gejala negatif tatkala disodorkan pesan bertanda titik pada memo tulisan. Sayangnya, penelitian ini tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa pada memo tertulis kesan negatif tidak muncul, dan apa sebab pada pesan singkat pada gawai dapat bernilai sebaliknya.

Tetapi Klein justru membandingkannya dengan komunikasi langsung berupa percakapan. Dalam pesan singkat tidak banyak petunjuk sosial yang digunakan. Sedangkan dalam percakapan ada tanda-tanda yang bisa kita tangkap. Informasi emosi mudah dilihat melalui mata, mimik wajah, nada bicara dan lainnya.

Mekanisme ini, memurut Klein, tidak ditemui dalam komunikasi pesan singkat. Emosi hanya terwakili melalui emoji yang disediakan penyedia layanan. Atau, kalau tidak ada yang mewakili biasanya menggunakan kesalahan mengeja yang disengaja dan tentu saja tanda baca.

Karena itulah, penelitian ini menemukan hal yang lebih mengejutkan, tanda seru yang sering dianggap negatif—sebagian ada yang menganggap bentuk “penyerangan”—malah membuat pesan singkat tampak lebih tulus.

Kembali ke soal tanda titik. Ada analogi dari Klien, jika Anda tetap (memaksakan) menggunakan tanda titik pada pesan singkat, itu tak ubahnya Anda berbicara formal (resmi) dalam forum kasual (non-resmi) seperti pada sebuah bar.

Jadi, mungkinkah dunia tanpa titik? []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s