sorotan

Indonesia Tak Selebar Lubang Sedotan


PARODI

Gini sajalah. Anggap aku ini orangtua super-protektif terhadap anak. Anggap saja aku ini orangtua kolot yang tidak terlalu percaya jika anaknya diajar berlebihan oleh orang lain, mungkin kau menyebutnya guru. Anggap saja aku ini orang katro, ndeso yang sulit diajak maju. Lantas, apa hakmu jika seluruh hak anakku kau rampas hingga ia tak sempat bermain dengan teman-temannya di rumah. Pulang jam lima sore itu keterlaluan. Bayangkan, anakku harus menghabiskan waktu sepuluh jam di dalam lingkungan yang dikelilingi tembok-tembok tinggi. Aku saja bekerja di kantor delapan jam sungguh menjemukan.

Kamu tahu, sekolah itu harus menyenangkan. Mana bisa menanamkan ilmu dalam kondisi muridmu bosan, tertekan, mbetei. Oke-oke, katamu tidak semua hari dipenuhi belajar, tetapi diisi dengan ekstra kulikuler atau kegiatan lain untuk pengembangan karakter. Memangnya guru-gurumu itu sudah siap? Bukan hanya keahliannya tetapi juga waktunya. Gurumu itu bukan manusia super yang bisa sesuka-sukanya diminta mengerjakan ini-itu. Lihatlah mereka, dengan kacamata mereka, bukan kacamatamu.

Jika guru-gurumu itu harus mengajar kegiatan ekstra, mereka harus dididik keahliannya lagi, dan gak gampang. Pelatihan untuk peningkatan kemampuan guru ndak gratis. Butuh duit. Mendatangkan tenaga dari luar juga duit, siapa yang harus membayar. Membebankan ke orangtua, siapa yang sudi. Lagi pula mengutip uang dari luar sekolah itu melanggar, entah nanti kalau ada yang nekat untuk berbuat nakal berdalih tambahan jam pelajaran. Negaramu ini sedang susah. Apa tidak tahu belanja negara dipotong 133 triliun rupiah. Ah, pasti sudah tahu. Kalau sudah tahu, lalu darimana dana untuk menyokong progammu itu. Memangnya dengan program Kurtilas (Kurikulum 13) tempo hari yang menyebabkan “tsunami” di sekolah-sekolah kau tidak tahu. Guru-gurumu itu belum siap. Materinya jangan dikira aman-aman saja, masih perlu penggodokan terus. Dan, hingga kini belum selesai. Apa tega membebani guru-gurumu lagi. Katakan kamu tega, apa gurumu sanggup. Kantungmu cukup untuk nambahi jam tambahan belajar tadi?

Lagian, gini ya. Menambah jam itu artinya biaya. Kalau sepuluh jam di sekolah artinya harus difikirkan makannya, uang jajannya, buang hajatnya. Iya buang hajat. Operasional sekolah juga pasti membengkak, gara-gara ini. Beban listrik, air dan tetek-bengek lainnya, apa sudah dihitung? OB sudah pasti minta tambahan gaji untuk nyirami kencing dan kotoran di lubang wc sisa hajat anak-anak didik yang masih butuh bimbingan. Memangnya, infrastruktur sekolah siap apa? Jangankan infrastruktur tambahan, yang pokok saja sering terlewat, kok. Bangunan reyot banyak yang tak tersentuh.

Itu dari segi fisik, bagaimana dari sisi jadwal. Beberapa sekolah karena memiliki banyak rombel (rombongan belajar) sementara jumlah kelas terbatas, mereka menerapkan kelas pagi-siang. Lalu, ini bagaimana mengaturnya? Mungkin kau akan mudah bilang, pangkas saja penerimaan siswa barunya. Itu sih mudah. Tapi, tahukah berapa orangtua yang protes dan frustasi karena kesempatan memasukkan anaknya ke sekolah negara menjadi kecil? Kita semua boleh jujur, salah satu alasan mengapa banyak orangtua ingin memasukan anaknya ke sekolah negara karena gratis. Nah, kalau kebijakan ini kau paksakan, kemana anak-anak yang kurang mampu akan bersekolah?

Guru-guru sama seperti murid, mereka juga akan jenuh. Belum lagi harus mempersiapkan bahan ajar besok pagi. Anak-anak harus mengerjakan tugas dari guru. Sampai di rumah, anak dan guru sama-sama teler. Siswa mengerjakan seadanya saja. Guru memberikan tugas seadanya juga. Kualitas waktu untuk keluarga jadi taruhannya. Guru punya anak-anak. Siswa punya orangtua. Kualitas pendidikan bisa remuk kalau begini.

Sekolah milik negara ini ingin meniru sekolah swasta. Lha, sekolah swasta juga tidak ada yang sampai jam lima sore. Paling-paling jam setengah empat. Itupun dijamin anak sudah kelewat cape begitu sampai rumah. Tapi, masih lumayan bisa sosialisasi sedikit dengan teman rumah. Alasan lainya, agar bisa dijemput orangtuanya sepulang kerja. Kalau patokannya kota di daerah mungkin bisa. Ayah-ibunya pulang jam empat, lalu ke sekolah jemput anak. Di Jakarta, orangtuanya saja baru pulang jam lima sore, kena macer, dipanggil bos, belum lagi meeting dadakan, ngejar death line, jadi tak mungkin menjemput.

Pendidikan bukan untuk Jakarta, atau kota besar saja. Coba kau lihat di pelosok-pelosok yang karena jumlah sekolahnya sedikit, jarak rumah ke sekolah sangat jauh. Kalau pulang jam lima sore, sampai rumah sudah gelap gulita karena tidak ada listrik. Kalau di jalan diterkam buaya atau harimau, gimana. O, kau jangan sekejam itulah, kasihan pula mamak dan bapaknya. Anak-anak ini adalah penerus mereka, tempat berharap, kelak, bisa meneruskan mencari nafkah.

Kalau kau renggut juga kesempatannya membantu mamak dan bapaknya di kebun, di sawah, di peternakan atau tempat lain, lalu darimana mereka harus menutup kekurangannya. Adik-adiknya, siapa yang membantu mengurus. Jangan samakan hidupmu dengan mereka yang kemana-mana dikawal asisten rumah tangga. Anak-anak desa terbiasa mengurusi adik-adiknya yang masih kecil. Apa mereka dibiarkan kalau program seharianmu di sekolah itu jadi dilaksanakan? O, jangan begitulah. Kasihan mereka. Indonesia itu luas, bukan hanya selebar lubang sedota, apalagi yang kau bidik hanya Jakarta dan kota-kota besar.

Aku pikir-pikir, negara tidak harus lebay-lah mengambil alih kewajiban orangtua mendidik anak. Serahkan sebagian tanggungjawab itu pada orangtua. Kasihan negara, banyak pekerjaan. Katamu program ini untuk pendidikan karakter. Sepintas bagus. Tapi, apa harus di sekolah? Penyeragaman pola dan cara pandang, gitu? Hii…bukan malah lebih seram kedengarannya, ya? Padahal, pembangunan karakter di lingkungan rumah juga baik, kok. Percayalah dengan orangtua, mereka sangguplah ngurusi amanah dari Tuhan. Jangan terlalu khawatir soal pergaulan yang mengerikan di luar lingkungan sekolah, selama orangtuanya bisa mendidik dengan benar, Insyaallah anaknya anak baik-baik saja.

Oh ya, satu lagi. Pendidikan itu harus berorientasi penuh pada kebutuhan siswa. Jangan masukkan kepentingan lain, bisa sumir nanti. Maksudnya begini, apakah sekolah yang seharian itu betul-betul untuk kebutuhan siswa? Jujur saja. Gampangnya gini deh. Kan, sempat terkabar bahwa sekolah yang seharian ini agar orangtua mudah menjemput anak? Lha, ini kebutuhan siapa ya, orangtua atau siswa? Atau sebaliknya, aturan baru ini akan membangkrutkan tempat-tempat kursus, bimbel, dan sejenisnya. Ah, ini juga jangan lebay. Selama progamnya dihitung dengan benar dan realistis dilaksanakan kenapa, enggak? Jangan ribet mikirin, selama pendidikan anak terjamin. Dan, apa betul rencana ini untuk mendukung cita-cita program pimpinan negeri ini? Apa gak kejauhan tuh.

Masalahnya sekarang, apakah rencana ini sudah dilakukan kajian. Jika belum, sungguh menyedihkan. Dunia pendidikan itu tak lepas dari soal riset, telaah, kajian dam sejenisnya. Kita orang dewasa sering mengajarkan itu pada anak. Nah, kalau untuk hajat sebesar ini tidak dilakukan kajian, akan kemana muka kita ditaruh dihadapan anak-anak?

Lakukanlah, meski itu riset skala mikro. Coba deh tanya anak-anak, iseng saja. Bagaimana tanggapannya. Mereka ini objek kebijakan lho. Jadi, penting untuk diketahui. Aku sendiri sudah bertanya. Ia hanya berujar, “Aduuuh,…”

~SELESAI~

foto: ilustrasi. baristakata.com/ahmadi supriyanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s