fiksi

​Biarkan Aku Mencintai Pohon-Pohon


Entahlah. Setiap aku melewati rumah penuh pohon-pohon itu jiwaku merasa tentram. Angin semilir tak henti-hentinya meranggasi kulitku yang tipis. Menyapu lembut seluruh tubuhku, tak terlewat satu mili pun. Lihat wajahku selalu berseri. Engkau tahu kenapa? Oleh sebab sisa embun pagi dari pohon-pohon itu menciumi pipiku, dahiku juga bibirku. Ah, amboi, jiwa terasa damai. 
Aku seperti tersihir oleh pohon-pohon yang ada di dalam rumah itu. Mereka selalu memanggil-manggilku, padahal aku belum pernah berkenalan. Aku pemalu. Bukan, aku bukan pemalu. Aku harus jujur padamu. Aku tidak menghampiri pohon-pohon itu  bukan karena aku malu. Aku takut. Aku takut pada pemilik rumah itu. Setahuku, ia tidak pernah bertegur sapa dengan siapapun. Sosoknya tidak dikenali tetangga. 

Kalau saja kamu berani dan berkesempatan melihat rumah itu, niscaya kamu tergiur untuk mendatanginya. Pohon apa saja ada di pekarangan itu. Pekarangannya sangat luas. Itulah mengapa beragam pohon bisa ditanam di sini. Yang paling menarik minatmu pasti  pohon buah macam jambu air, jambu batu, mangga, nangka, cempedak, sawo, mengkudu, rambutan, manggis, belimbing, srikaya, cermai, ceri. Ah, aku lupa selebihnya. Lagi pula aku hanya mengintip dari luar pagar, mana aku tahu dengan pasti apa yang ada di dalam pekarangannya sana. Singkatnya apa pun bisa kau petik bila berada di dalamnya.  

Aku mengira-ngira, pemilik rumah ini sangat mencintai pohon. Dirawatnya pohon itu seperti anak-anaknya sendiri. Buah-buah itu adalah hasil cinta-kasih pemiliknya. Aku tidak tahu dikemanakan buah-buah itu kalau sedang panen. Tak seorang tetangga pun pernah mencicipinya. Aku juga tidak pernah melihat tengkulak atu pengijon mendatangi pemilik rumah untuk diborong buah-buah itu. Buah-buah itu seperti ditelah begitu saja oleh bumi.

Pemilik rumah tidak menanam pohon untuk diperdayai. Yang aku maksud adalah ia menanam pohon karena ia memang suka dengan pohon itu. Terlihat betul pohon-pohon itu tertata apik. Berbaris seperti tentara yang sedang berparade. Lurus pada pokok tanahnya. Jaraknya tak menyakiti antara satu pohon dengan pohon lainnya. Tetapi saling berpelukan ketika dewasa. Ranting-rantingnya berangkulan meneduhi apapun yang ada di bawahnya. 

Aku selalu membayangkan nyaman berada di bawah pohon-pohon itu. Ikut bercanda dengan mereka. Meningkahi pola pucuknya yang seolah mengajakku menari pada ketukan angin sore yang semribit. Musiknya, biarlah daun-daun yang mengatur. Toh, ia punya banyak teman. Burung-burung itu tentu bersenang hati jika diajaknya berdendang. Kamu tidak usah merisaukan kemeriahan tarianku. Aku dengar, pemilik rumah yang misterius itu memiliki  beberapa kijang, beberapa kelinci, beberapa ayam, beberapa kambing. Mereka tak berkandang. Dibiarkan saja lepas. Rumah mereka adalah pekarangan itu. Seperti pemiliknya, binatang-binatang ini tidak pernah keluar rumah. Pastilah binatang-binatang itu tidak berkeberatan bila diajak menari. 

Maka, jika aku ikut menjadi bagian dari pohon-pohon itu, aku akan mengajaknya menari setiap hari, tentu mereka akan senang. Bergembira adalah dambaan setiap makhluk. Seperti mimpiku tentang mereka, tentu saja mereka bermimpikan tentang aku, meski aku belum berkenalan dengan mereka. Cinta, seperti katamu, dapat berkata-kata pada jarak maya. Begitulah aku pada pohon-pohon itu. Biarlah aku saja yang tahu dan tentu saja kamu. Tolong jangan sampaikan kabar ini pada siapapun. Aku takut pada pemilik rumah itu. Aku takut pada orangtuaku. 

Aku cerita sedikit saja mengapa aku takut. Bukan sekali-dua saja aku dihardik Bapak karena tingkahku ini. Sebagai bocah laki-laki aku tak pantas sering-sering bergaul dengan pohon. Tiap hari kerjaku hanya bermain-main dengan pohon saja. Pulang sekolah, tanpa mengganti baju, aku langsung menyapa pohon-pohon kecilku di pot yang berjejer di tembok-tembok rumah. Aku ajak bicara pohon-pohon itu. Aku berikan dongen,  tentang pohon ksatria. 

Aku ceritakan pada pohon-pohon kecilku: 

Pada masa lalu, ada sebuah kerajaan yang didera kesulitan luar biasa. Rakyatnya susah makan. Rampok terjadi dimana-mana, berdalih soal makanan. Petinggi kerajaan sibuk dengan dirinya sendiri, upeti dinaikan tetapi dikantongi sendiri. Raja terpojok. Kemarahan meluap hingga ke sudut-sudut  negeri. Rusuh mana bisa ditolak kalau sudah begitu. Leluhurmu, pohon kecilku, angkat bicara. “Raja, ambil saja kami. Juallah kami pada negeri di seberang sana. Mereka membutuhkan kayu-kayu untuk perahu dan rumah.” Raja terdiam. Negerinya memang dikelilingi hutan yang rimbun sejauh mata memandang. Ia tak punya pilihan. Dengan tersedu dibabatnya hutan itu. Namun, raja bijak ini menyisakan generasi. Dibiarkan pohon-pohon kecil. Ditumbuhinya lagi tunas-tunas baru. 

Aku ceritakan demikian, pohon-pohon kecilku terlihat senang. Daunnya seketika berkilau. Dahannya bergerak-gerak. Kalau sudah begitu aku balas mereka dengan sentuhan lembut tanganku, aku basuhi satu-satu daunnya. Sesekali aku kecup dengan bibirku. Di belakang, Bapakku keras menghardik. Ditendangnya pohon yang baru saja aku basuh tadi. Aku ingin memungut, tanganku ditarik. Disuruhnya aku ke belakang  rumah mengambil bola kaki. Aku terdiam, sambil menoleh pohon-pohon kecilku yang malang. Bapak ingin betul anakknya gemar sepakbola seperti dirinya dan juga anak laki-laki pada umumnya yang  menggilai sepakbola. 

Bapak mengayuh sepeda kuat-kuat supaya aku tak tertinggal bergabung dengan anak laki-laki lainnya. Aku menurut saja. Di lapangan, Bapak hanya sebentara mengawasiku. Aku memilih ke luar lapangan, bercengkrama dengan pohon-pohon yang tumbuh di sekeliling lapangan. Di sini tidak ada pohon buah melainkan pohon keras macam jati, lamtoro, mahoni, bahkan di sudut ada pohon beringin. Banyak anak-anak menghindari pohon-pohon besar itu. Takut katanya. Buatku, pohon besar itu seperti kawan dewasaku, bisa melindungiku justru di saat aku takut.

Pernah suatu sore, karena asyiknya aku bercanda dengan rumbai-rumbai beringin, Bapakku mencariku ke mana-mana. Di surau, di taman, di sungai, di tepian rel. Aku tidak ada. Tentu Bapak lupa, bocah laki-lakinya tidak suka bermain di luar rumah. Ia hanya mencintai pohon-pohon. Tak mungkin aku mendatangi suatu tempat yang tidak ada pohonnya. Bisa mati sepi aku kalau begitu. 

Di surau, umpamanya, setelah selesai ngaji, aku langsung pulang meninggalkan teman-temanku yang berlarian kejar-mengejar sambil memutar-mutar sarung mencari sasaran. Suara teriakan teman-temanku kalau sudah bercanda melebihi toa surau.  Jujur aku kurang tertarik, kecuali kalau ada pohon aku barangkali bisa berlama-lama di surau. 

Taman di tempatku lebih cocok barangkali disebut arena perjodohan. Banyak sekali muda-mudi berkumpul di sana. Aku risih. Ada yang  berasyik-asyik di balik tumbuhan rambat, padahal tempat lain begitu luas. Ada yang nikmat berbincang nyaris tanpa suara, tak sadar mulutnya hampir beradu. Ada yang duduk naik motor-motoran seperti bocah di atas sebongkah kayu besar. Wanita di depan, lelaki di belakang. Lebih aneh lagi, ada yang nekat tidur-tiduran di atas rumput yang kering coklat-coklat. Aku tak habis pikir, nuansa apa yang dicari dengan gaya seperti itu. Aku tak menyukai taman itu. Pertama karena tempat ini sudah dijajah orang dewasa. Kedua, tidak ada pohon. Taman ini hanya ditumbuhi rumput dan bunga-bunga. Aku tak suka bunga. Aku suka pohon. 

Sungai di tempatku juga tak ada pohon. Kanan-kirinya hanya ilalang tinggi-tinggi. Aku hanya beberapa kali saja berenang bersama teman-teman. Lagi pula, semenjak ibu-ibu menggunakan deterjen cuci, busanya   memedihkan mata. Barang-barang di sungai yang ditemui bukan lagi pasir, batu tetapi turut serta juga bungkus sampo, sabun, rokok, botol minuman, kantong-kantong plastik. Ah, kamu jangan membayangkan ikan-ikan. Mereka kalah bersaing dengan makhluk-makhluk plastik. Ikan-ikan itu barangkali sudah menyingkir atau bahkan mati bunuh diri. 

Kemudian, buat apa Bapak mencariku di tepi rel. Apa dikiranya aku seperti mereka yang gemar menaruh paku di atas rel, menunggu digilas kereta, lalu lompat kegirangan karena sebuah pisau telah tercipta. Bapak mungkin lupa, sudah lama aku tidak bermain di tepi rel. Dulu, pohon-pohon masih banyak, aku sering mengajak mereka bermain-main kalau sore. Sebagian malah aku yang ikut menanam. Belakangan, mereka disingkirkan. Ditebas semau-maunya, digantikan gubuk-gubuk. Aku tak paham, makhluk sejenis apa yang tega membinasakan makhluk lainnya, demi kepentingannya, hanya karena ia diam tidak bisa melawan. Aku benci tepi rel. Teman pohonku telah hilang semua. 

Seharusnya, Bapak mencariku di lapangan, bukankah itu yang ia mau?

Magrib telah jauh terlewat. Aku terus saja bermain dengan beringin itu. Ia seperti kakekku sendiri. Seharian  aku bisa tentram bersamanya. Janggut-janggutnya itu yang aku suka. Bila aku tarik, beringin itu seperti kegelian, terkekeh-kekeh. Semakin aku tarik semakin terkekeh. Aku makin gembira, aku tarik kuat-kuat, kakek beringin berteriak kesakitan. Semua makhluk yang hinggap di kepala kakek beringin berhamburan, mengeluarkan semua bunyi yang mereka punya. Suaranya nyaring terdengar. 

Kampung geger. Kentongan bertalu-lalu kecang ku dengar. Mereka membawa obor. Jumlahnya begitu banyak. Kemana mereka? Oh, mengapa mereka mendatangi beringin ini? Apa salahnya? Bapak, mengapa bersama di antara orang-orang ini? Aku bersembunyi dari dahan besar dua baris dari bawah. Aku lihat ada yang merapalkan sesuatu dari mulutnya. Kepalaku tiba-tiba pusing. 

Aku absen sekolah. Kepalaku masih berat. Dibaringkannya lagi tubuhku dengan lembut oleh Ibu. Ia menenangkanku sebentar. Aku bertanya apa yang terjadi. Ibu hanya bercerita, aku hilang sejak magrib, dicari ke semua sudut kampung tidak ketemu. Termasuk ke lapangan, aku tidak ada. Hingga tengah malam orang kampung mencariku. 

“Kamu kami temukan dekat beringin itu sebelum subuh, Nak,” nada lembut Ibu pelan. 

Sejak itu, Bapak tidak pernah mengantarkan aku ke lapangan. Tentu Bapak takut kalau aku bermain-main dengan beringin itu. Bukan hanya takut aku mendekati beringin itu, kepada pohon-pohon besar yang ada di lapangan aku dilarangnya mendekat. Kebahagiaanku seperti dicerabut begitu saja oleh Bapak. Aku suka pohon. Bapak membenci aku, kalau aku suka pohon. Kamu tahukan apa yang kurasakan, kawan? 

Sekarang, aku memang tidak pernah lagi ke lapangan. Aku coba mengerti perasaan Bapak. Tapi untuk  berhenti menyukai pohon aku tidak bisa. Maka, rumah dengan banyak pohon yang ditunggui penghuni misteriusnya menjadi pengobat rasa hampaku. Setiap melewatinya, aku kerap berhenti. Aku selalu mengangankan bisa  berkenalan dan kemudian bergabung dan bermain bersama mereka.  

Aku suka berlama-lama memandangi rumah itu dari seberang jalan. Pohon-pohon besar yang berada di sisi pagar seperti mengajakku. Memintaku  meraih dahannya, memanjati tubuhnya dan membawaku ke dalam. Aku mendekat, menghampiri pohon besar itu yang berada di sisi dalam pagar bambu yang diselimuti pepohonan rambat. Dari celah pagar yang tersisa inilah terkadang aku mengintip isi pekarangan rumah itu.

Dan benar, dahan itu memegang pundakku. Terasa dingin menyentuh sedikit bagian leherku. Dadaku bergejolak. Tuhan mengabulkan keinginanku. Namun, sungguhkah ini? Aku menoleh. Lamunanku buyar. Sekejap aku menyeret kakiku dua langkah ke belakang. Seorang lelaki tua tersenyum ke arahku. Senyum yang ramah meski terasa aneh. Inikah pemilik rumah misterius itu, yang tak pernah bertegur sapa dengan tetangganya?

Pertanyaanku terjawab dengan sendirinya. Ia mengajakku memasuki pekarangannya. Hatiku berbunga, meski aku tak begitu suka bunga. O, betapa damai pekarangan ini. Lihat pohon-pohon itu. Elok sekali. Buah-buahnya mulai bercikal, sebentar lagi tentu besar. Tubuh pepohonan itu gagah berdiri, tegap menyambutku layaknya tamu kehormatan.  Daun-daunnya melambai menyapaku. Sebagian menyambutku, pepohonan itu memberikan tangannya penuh hormat. Aku menyalami dengan hangat. 

Inilah perkenalan pertamaku dengan mereka. Aku berlarian mengitari mereka. Membelah gerumbulan daun-daun yang ingin memelukku. Aku tahu mereka menginginkan aku. Aku menyapanya satu persatu. Betapa murah hati pohon-pohon itu. Mereka menjatuhkan buah-buah dihadapanku. Mereka tahu aku barangkali lelah. Beberapa buah jambu air dan beberapa buah belimbing tentulah bisa menghilangkan kering tenggorokan. Nafasku tak pernah habis, mereka menjamin oksigen di tubuhku agar tetap tercukupi. Udara yang menyesap di dadaku segar mengaliri seluruh pembuluh darahku. Staminaku terjaga. Bilamana seseorang sehat, itulah kunci penting mencari bahagia. Keduanya aku dapati di rumah ini. 

Aku selalu berkeinginan sering-sering main ke rumah ini, kalau saja Bapak tidak melarang. Tapi sejauh ini Bapak hanya tahu sedikit. Yang diketahui banyak oleh Bapak adalah aku makin sering bergaul dengan pohon-pohon kecilku di rumah. Beberapa kali Bapak menghardik aku, jumlahnya aku sudah lupa. Bapak tak pernah pupus keinginannya agar aku bermain sepakbola, tetapi aku mencintai pohon-pohonku. Aku tak ingin meninggalkan mereka. Apa salahnya aku mencintai pohon dan membenci sepakbola. Bukankah sama-sama menariknya: berinteraksi sesama makhluk Tuhan. Jangan karena kamu tidak bisa mengajak pohon-pohon bermain, lalu kamu membenci pohon. 

Seperti  Bapakku. Ia semakin benci pohon akhir-akhir ini. Bapak tanpa sebab mencabuti semua pohon yang telah kupindahkan ke tanah. Kata Ibu, supaya aku tak lagi bergaul dengan pohon-pohon itu, dan mau bermain sepakbola. Asal mulanya, seperti diceritakan Ibu, tingkahku sudah dianggap aneh, mengkhawarirkan. Apa sih anehnya kalau aku bernyanyi dengan pohon-pohon. Mendongengi mereka. Apa yang perlu dikhawatirkan kalau aku sebelum sekolah menyapa mereka dan menciumnya. Apa yang salah? Bukankah sesama makhluk harus saling menyayangi. 

Rumahku sendiri aku anggap semakin sepi, kering. Pohon-pohon yang mulai tumbuh mati dengan cara yang paling menyakitkan: disakiti oleh seseorang yang juga aku cintai. Bapak barangkali tak ingat beberapa pohon yang masih di pot. Segera saja aku pindahkan pohon-pohonku ke rumah yang memiliki pekarangan luas itu. Pohon-pohon kecilku pastilah senang memiliki sehabat dan keluarga baru. Pemilik rumah dengan senang hati menerima mereka. Kian hari aku mencintai rumah ini, pekarangan ini, dan tentu pohon-pohonnya. 

Pemilik rumah ini bukannya tidak ramah, ia menurutku pria paling lembut yang pernah ketemui. Ia banyak tersenyum kepada pohon-pohon. Sedikit pun  ia tidak pernah menyakiti pohon-pohon itu. Bahkan memperlakukannya secara baik, melebihi dirinya sendiri. Pohon-pohon itu kemudian membalas kebaikannya dengan menghidupi pekarangan itu dengan sehidup-hidupnya kehidupan. Kamu tentu ingat bebuahan yang tidak pernah dijual atau dibagikan pemilik rumah ini kepada tetangga.  Menurutku inilah yang membuat pekarangan ini bisa  bestari di antara binatang-binatang, pohon-pohon dan pemilik rumah.  

~SELESAI~
Cerpen ini terinspirasi karya Kuntowijowo, berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s