intermezo

Rasa Sop Ikan Ini Mampu Menandingi Sop Ikan Batam


KULINER

Buat penggila masakan ikan, tentu tak asing dengan Sop Ikan Batam. Yup, ikannya lembut,  rasanya segar dengan kuah bening yang sungguh gurih. Ditambah  sawi putih, membuat menu sop ikan ini makin menyehatkan.

Olahan sejenis Sop Ikan Batam ternyata saya jumpai di kantin kantor Kementerian Perdaganga RI, Jalan Ridwan  Rais, Gambir, Jakarta Pusat. Lokasi persisnya berada di basement Gedung Utama.  Saat saya diajak seorang kolega makan di tempat ini benar-benar kaget, sebab rasanya mirip betul dengan sop yang sudah kondang itu dan dikenal seantero pecinta kuliner. Bahkan, menurut penilaian saya, sop ikan di  Sop Ikan Imah ini lebih unggul. Oh ya, saya lupa memberi tahu, warung makan ini—sebenarnya lebih cocok disebut kios—diberinama Nasi Bakar dan Sop Ikan Imah.



Warna dagingnya putih bersih. Tekstur kakapnya yang di-fillet betul-betul lembut, namun tetap  kenyal, serat-serat dagingnya sangat kentara dan sama sekali tidak hancur.  Rasa amisnya jauh sekali berkurang, nyaris tidak ada—kalau hilang sama sekali justru menjadi hambar, aneh saja kalau sop ikan kok tidak beramis. 

Yang jelas, Sop Ikan Imah pasti  diolah oleh juru masak  handal dan berpengalaman sehingga bisa menghasilkan kaya rasa, segar dan benar-benar menggugah selera. Menurut pengakuan pemilik warung, istrinyalah sosok di balik dapur yang mampu menghasilkan sop ikan yang mirip dan mampu mengungguli Sop Ikan Batam. 

Istrinya pernah menjadi koki di sebuah restoran di Singapura dan Malaysia. Berbekal pengalaman itulah, ia mendorog istrinya memberanikan diri membuka warung yang kemudian menyisipkan kata “Imah” yang diambil dari nama panggilan istrinya.  Imah dalam bahasa Sunda berarti rumah, berharap masakannya bisa dinikmati pelanggan seperti di rumah sendiri. 

foto diambil saat warung menjelang tutup.

Selama delapan tahun membangun usahanya, pemilik warung  mengaku sudah mempunyai pelanggan tetap, yang bukan berasal dari karyawan Kementerian Perdagangan saja. 

Pelanggannya merupakan  pegawai dari PLN, Ditjen Pajak, Kementerian Kelautan, Pertamina serta pegawai dari kantor lain yang bertebaran di sekitar  Gambir. Sebelumnya, ia bahkan telah membuka tiga cabang, satu kantor Jamsostek dan dua  lagi di kawasan Cakung. Sayang, karena tidak dikelola sendiri, tiga warungnya tutup. 
Kalau diteruskan membebani yang di sini (Kemendag-red). Jadi saya tutup,” ujar pemilik warung yang masih terbilang muda ini.

Selain, sop ikan Batam, warung ini juga menjual masakan lain yang menjadi andalan, yakni nasi bakar dan bebek goreng. Walaupun saya belum pernah mencoba, nampaknya nasi bakar Imah banyak diminati. Setidaknya, saya lihat yang lebih habis terlebih dahulu adalah nasi bakarnya. Begitu juga pengakuan dari kolega saya yang bekerja di kantor ini: beberapa karyawan banyak yang membawanya pulang dan memesan untuk acara kantor atau keluarga. 

Karena berada di kantin sebuah kantor, sayangnya, Nasi Bakar dan Sop Ikan Imah hanya dapat dinikmati pada hari kerja saja. Itupun tidak bisa lewat dari jam 2an, karena  lewat jam itu biasanya sudah ludes dibeli pelanggan. 

Soal harga  masih dapat bersaing, terutama dengan jenis masakan yang sama, semangkuknya plus  nasi 25 ribu rupiah. Dengan harga itu, isian sop ikan sudah termasuk dengan beberapa potongan bakso ikan yang membuat semangkuknya benar-benar penuh. Ditambah dengan sawi hijau yang masih segar, Sop Ikan Imah  selalu membawa kita ingin kembali. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s