sorotan

Selon Mas Bro, Jangan Pusingin Harga Rokok


​PARODI

Pernah dengar nggak cerita orang sukses karena rokok? Maksudnya bukan para pemilik pabrik rokok yang gak pernah merokok itu, atau para pedagang rokoknya, tetapi perokoknya. Hm, jawabannya saya yakin bisa beda, berikut argumen yang mengikutinya.

Buat para perokok, biasanya berdalih merokok dapat mengencerkan otak, mengendurkan saraf, melonggarkan ketegangan, membuat fokus, bikin badan selalu terjaga dan seabrek alasan lainnya—macam tukang obat pinggir jalan saja awak menjelaskannya.

Itu sebabnya—barangkali—banyak pemimpin besar dunia adalah perokok. Sebutlah Bung Karno, Jenderal Besar Soedirman, Winston Churchill,  Joseph Stalin, Fidel Castro, Ho Chi Minh, Mao Tse-tung, Jenderal Charles de Gaulle, Jawaharlal Nehru semuanya adalah perokok. Ketika itu rokok bahkan masuk sampai ke ruang-ruang sidang dan acara resmi. Seperti diyakini hingga sekarang, seudut rokok adalah bahasa pergaulan yang efektif.

Eits, nanti dulu bro. Jangan gegabah menyimpulkan. Keberhasilan pergaulan ndak semata karena sebatang rokok. Tapi butuh keahlian diplomasi serta kecakapan komunikasi. Ketika Bung Karno menyulutkan api ke rokok Jawaharlal Nehru dalam sebuah forum resmi, dan kemudian menjadi foto fenomenal, ini dimanfaatkan Si Bung dengan membahas masalah-masalah penting kedua negara. Begitu pun saat Soekarno dan PM Uni Sovyet (Rusia) Nikita Khrushche berbagi api dari ujung rokok masing-masing pada sebuah jamuan makan malam. Terlihat sekali keakraban di antara meduanya. Rokok adalah sekadar medium untuk jenjang diplomasi selanjutnya.

Cerita lain datang dari Haji Agus Salim, seorang diplomat ulung yang pernah dipunyai Indonesia. Ketika itu ia ditugasi mewakili Soekarno  menghadiri penobatan Ratu Elisabeth II di Istana Buckingham pada 1953. Seperti diceritakan duta besar Inggris untuk Indonesia periode 1982-1984, R.Brush,  kebiasaan  Agus Salim merokok luar biasa. 

“Beliau merokok kretek secara bersambung-sambung. Saya minta ia berjanji bahwa beliau boleh merokok sepuas hati selama di mobil, namun harus berhenti merokok sebelum memasuki gedung Westminster Abbey itu,” ujar R. Brush. 

Namun, janji ini dilanggar oleh  Agus Salim karena satu alasan yang tepat. Menurut putra ketiga Agus Salim, Jojet, ayahnya ketika itu melihat Pangeran Philip yang masih belia (32 tahun) canggung menghadapi tamu-tamu yang hadir dan belum mampu menempatkan diri secara pas, meski posisinya sekadar sebagai “pasangan” Ratu. Demikian canggungnya, sampai-sampai ia melalaikan tamu asing yang datang jauh-jauh untuk menghormati peristiwa penobatan. 

Guna menghindari ketegangan, Agus Salim  menghampiri Pangeran, sambil mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung Pangeran seraya bertanya, “Paduka, adakah Paduka mengenal aroma rokok ini?”

Dengan ragu, Pangeran menghirup-hirup dan mengakui tidak mengenal aroma rokok tersebut. Agus Salim pun dengan senyum mengatakan, “Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya.”

Apa yang terjadi?  Sang Pangeran tersenyum lebar dan suasana menjadi cair, ia pun lebih luwes melayani tamu-tamu.

Nah, begitulah rokok jika “digunakan” secara tepat dalam kontkes pergaulan. Jadi, jangan seenak jidatmu klepas-klepus di ruang publik, apalagi di kendaraan umum. Bagus gak dijotos orang mas bro. Tapi yang antirokok juga jangan lebay, ngeliat orang ngerokok bawaannya main tampol. Kebayang  gak kalau Pangeran Philip orangnya emosian, bisa ribut tuh sama Agus Salim. Tapi Pangeran tahu, Agus Salim tidak berniat kurang ajar, melainkan ingin membantu. 

Intinya gini, setiap tindakan sejatinya adalah bentuk komunikasi. Sedangkan komunikasi berhakiki menciptakan harmoni, jika tidak, maka komunikasi dianggap gagal.

Buat pembenci rokok nampaknya agak gembira dengan kabar ini. Jika bukan isu, harga rokok akan dinaikkan menjadi 50 ribu rupiah sebungkus.  Berdasarkan hasil sebuah studi  mengungkap kemungkinan perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal. 

Gampangannya, orang memilih untuk beli makan atau kebutuhan penting lainnya—barangkali saat ini paket data masuk di dalamnya—daripada  rokok. Apalagi yang berkantong cekak, bisa mikir seribu kali tuh. Kita tahulah, konsumen perokok itu sesungguhnya siapa. Jadi, masuk akal juga kalau  harga rokok akan menurunkan pembelian. Bahasa kerennya, rokok bertransformasi dari barang inelastis menjadi elastis, ketika mencapai level harga tertentu.

Itu dari sisi ekonomi. Dari sudut sosial ada pergeseran juga, jangan-jangan kenaikan rokok ini bisa menimbulkan masalah sosial baru. Rokok yang tadinya sebagai medium interaksi, bisa jadi malah biang kerok keributan. Karena harga rokok mahal, teman akan pelit berbagi rokok. 

“Bro, rokoknya donk.”

“Ngak ada.”

“Gw liat loe tadi ngerokok.”

“Dibilangin, gak percaya amat.”

“Jangan nyolot luh!”

“Trus, mau loe apa, hah!”

Plak. Plok. Dug. Brug. TUNG!#&*

Saya membayangkan tidak ada lagi orang yang menaruh rokok sembarangan ketika ngariung bareng. Kalau perlu justru disembunyikan di kantong terdalam. Belaga bego, nunggu ada teman yang sukarela menawarkan rokoknya. Kalau situasinya seperti itu apa gak kacau tuh. Obrolan jadi garing. Saling curiga sesama kawan. Bukankah persahabatan dibangun dari rasa saling mempercayai.

Istilah pun boleh jadi bergeser maknanya. Kita mengenal uang rokok untuk tips kepada seseorang. Tetapi nanti, begitu harga rokok melambung, menyebut uang rokok kalau hanya memberi   sepuluh ribu atau dua puluh ribu rupiah apa lagi goceng malah dianggap  ngejek. Niat baik kalau disampaikan dengan cara yang tidak tepat bisa berabe.

Di beberapa tempat, tukang bangunan mensyaratkan rokok dan kopi. Kalau kopi okelah, tetapi rokok nanti dulu. Meski harga jasa pertukangannya lebih rendah dari pasaran, pembayaran model gini bisa membuat  pemilik proyek rugi. Tahu sendirilah, kekuatan tukang-tukang kalau merokok. 

Akibat isu ini, keresahan sudah melanda masyarakat. Entah kebetulan atau tidak, beberapa warung, menurut obrolan yang saya dengar mulai terjadi kelangkaan. Jangan-jangan sudah terjadi penimbunan. Maklum, buat sebagian orang menganggap rokok kebutuhan pokok sehingga perlu “diamankan” untuk mengeruk keuntungan, kelak ketika harga rokok benar-benar naik. 

Bukan hanya di tingkat bawah, kalangan berdasi juga mulai panik. Saham-saham berbasis rokok berguguran. Hembusan isu memang mudah membuat saham rontok. Raksasa-raksasa rokok jelas gerah akan situasi ini dan berusaha keras menstabilkan isu dengan mengatakan, ini hanya wacana dan terlalu berisiko jika pemerintaj tetap melaksanakan.

Tidak berhenti di situ. Gubernur pun panik. Jawa Timur sebagai sentra industri rokok besar berekasi, sebab sangat mungkin pundi-pundi mereka bisa kempis.. Jelas-jelas kenaikan tarif cukai rokok akan memangkas pendapatan petani tembakau dan buruh di pabrik rokok . Pemecatan bukan hal yang mustahil. Pengangguran, ya jelas akan naik. Apalagi   terdapat 6,1 juta orang  yang saat ini menggantungkan hidup di sektor ini. Jika tidak hati-hati industri rokok memang akan berantakan. 

Namun, jangan lupa, setiap kebijakan akan menimbulkan efek berbeda. Produsen tembakau tradisional akan diuntungkan. Bagi perokok berat dengan kelas menengah bawah akan ramai-ramai berpindah ke rokok tradisional seperti zaman dahulu, yakni rokok yang dilinting sendiri. Mereka akan merokok  bako (tembakau) tampang, mole, dan marsbrand yang dilinting dengan daun kawung (aren) atau kertas papier. Jadi buat daerah dengan banyak kebun tembakau tentu akan menyambut baik kebijakan ini. Ada celah positif untuk petani dan perusahaan skala rumahan  untuk mendapatkan keuntungan. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah jalur distribusi yang diperpendek agar tetap bisa bersaing dengan rokok pabrikan. 

Lantas, benarkah kebijakan ini dijakankan? Dalam waktu dekat kelihatannya belum. Setidaknya begitu yang dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebelum ada pembahasan APBN Perubahan 2016 dengan DPR. 

Kalau pemerintah serius ingin menjalankan rencana ini, wah nampaknya perlu pengawasan dari masyarakat saat pembahasan dengan DPR, jangan sampai gembos di tengah jalan. Kalau pun gembos, istirahatlah sejenak, sambil menghisap sebatang-dua batang rokok tak apalah. Jangan tegang, santai saja, mas bro. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s