sorotan

​Berterimakasihlah, Karena Pernah Mengenal Pamela Anderson (Balada Negeri Blur…!!!)


PARODI

Sudah tahu soal keramaian di linimasa tentang siaran cabang olahraga renang yang diblur?! Nah kalau belum, baca deh, nggak ada ruginya. Intinya sih gini: sebuah stasiun teve swasta menayangkan atlit renang wanita PON XIX Jabar yang sedang melakukan aktivitas saat  berada di kolam renang. Tubuh si perenang diblur, yang tersisa mukanya saja. Terbayang nggak tuh perasaan narasumber, badannya ditutup-tutup gitu.

Penduduk di jagad maya ribut. Pasalnya, pengaburan gambar dinilai sudah berlebihan, mengingat ini wilayah olahraga renang yang pakaiannya memang terbuka seperti itu. Ada yang mencibir: sekalian saja pakaiannya diganti dengan pakaian selam. Ada yang minta boikot penayangan PON. Ada yang menyebut telah terjadi wabah pornophobia. Bahkan, ada yang menjuluki negeri ini sebagai negeri konakan, yang mudah sekali birahi.

Kekesalan ini sih wajar. Coba saja bayangkan, apa enaknya nonton pertandingan—mungkin bukan hanya renang, tapi juga voli dan voli pantai atau yang lainnya—tetapi tubuh pemainnya diblur semua. Keindahan permainan tidak dapat utuh disaksikan. Kegigihan demi memenangkan gim atas lawan terhalangi awan buram yang sibuk mengikuti gerak tubuh pemain. Bukan cuma penonton, operator dibalik layar dijamin kewalahan juga. 

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dinilai kebablasan. Tetapi, KPI buru-buru menampik tudingan itu. Katanya, blur dilakukan atas kebijakan Lembaga Penyiaran (LP) itu sendiri. Jadi, apakah LP-nya yang overacting? Rasanya sih tidak. Mereka mungkin saja hanya menerjemahkan dari peraturan yang ada. Kalau kena semprit dari KPI, tentu LP-nya juga yang nanti kena repotnya. Boleh jadi ini hanya  tindakan preventif dari LP-nya saja.

Lagi pula dalam screenshoot yang tersebar itu, masih perlu dikonfirmasi apakah tayangan tersebut untuk  kegiatan peliputan pertandingan atau keperluan wawancara. Sebab, terlihat bahwa di dalam screenshoot lokasi terlihat mirip kolam renang hotel. Aktivitasnya pun tidak seperti sedang mengikuti pertandingan. Kalau ini yang terjadi, tentu saja stasiun teve swasta tersebut sudah betul menerjemahkan apa yang tertera dalam aturan.

Tindakan sensor dan blur sekarang ini terasa sering terjadi. Tanggapan masyarakat atas sensor tentu beragam, sesuai ideologi, keyakinan dan latar belakang masing-masing. Ada yang menyambut sangat antusias, karena meyakini dapat menjaga keluarga dari maksiat. Tetapi tidak sedikit yang merasa kenyamanan audience sebagai penikmat tayangan terganggu. Kondisi ini berbeda, bahkan saat sebelum Departemen Penerangan dibubarkan, yang justru sebagai simbol kebebasan pers dan media penyiaran. 

Ketika itu, melalui UU No.24 Tahun 1997, pada pasal 7 disebutkan, “Penyiaran dikuasai oleh negara yang pembinaan dan pengendaliannya dilakukan pemerintah.” Tetapi justru di era itulah tayangan-tayangan seperti BayWacth dapat diputar. Jika serial aksi itu ditayangkan sekarang, sudah dipastikan blur semua sepanjang film. Ya iyalah. Lokasinya saja di pantai, yang pakaiannya serba minim.  Kemudian drama remaja  Beverly Hills 90210 yang menceritakan gaya hidup anak muda ala AS. Dilanjutkan dengan Melrose Place, yang sangat hedonis. Terbayangkan tayangannya seperti apa. Beberapa film lepas lainnya mungkin masih dapat diputar dengan banyak sekali mengaburan.

Tapi kok bisa lolos ya? Hm, bisa saja karena penyiaran ketika itu menjadi instrumen yang berfungsi untuk kepentingan pemerintah. Sehingga, tayangan-tayangan berbau porno dianggap bukan isu strategis dan komoditas politik yang harus diurusi.  Jadi, ayo berterimakasihlah sama rezim pra-reformasi, karena merekalah kalian bisa menikmati BayWatch dan mengenal Pamela Anderson. 

Buat yang belum tahu Pamela Anderson, nggak usah kepo. Trus, nyari-nyari diinternet. Buka YouTube—emang kuota datamu cukup? Awas, otakmu bisa tambah runyam nanti. Bapak-Ibumu kasihan kalau nilaimu jeblok, karena mikir yang enggak-enggak. Sudah belajar saja yang rajin. Tekuni ibadahmu. Soal siaran teve sudah ada yang urus. 

Wes, gampang saja. Kalau enggak nyaman nonton blur-bluran, matikan saja tevemu. Itu wilayah kekuasaanmu sepenuhnya. Daripada penasaran melihat belahan dada yang diblur, belahan paha dan rok mini yang diblur itu lebih berbahaya. Rasa ingin tahumu itu candu. 

Gini lho. KPI bukan ingin membuatmu penasaran, lantas seperti “menyuruhmu” mencari dari sumber lain, toh diinternet banyak. Bukan itu, ‘Le. KPI bermaksud ingin menjaga anak-anak Indonesia agar tidak mudah maksiat. Nggak gampang birahi. Itukan yang ditakutkan oleh KPI. Makanya dilaranglah LP menayangkan hal-hal yang bisa membangitkan hasrat seksualmu. “Polisi Frekuensi Siaran” ini mengeluarkan Standar Program Siaran KPI Tahun 2012. Pada pasal 16 jelas disebutkan, “Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program siaran bermuatan seksual.” Sudah jelas itu.

Aturan untuk melindungi anak-anak juga tegas disebutkan pada pasal 14 (2), ”Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak dalam setiap aspek produksi siaran.” Melindungi anak itu luas. Bukan sekedar urusan seksual. Teman dekatnya adalah kekerasan. Maka, nggak usah heran sekarang tayangan dalam film laga, terutama saat memegang pisau, senjata api, atau adegan berdarah-darah ikut kena serangan blur. Bahaya kalau sampai memengaruhi anak-anak. Masalah ini diatur dalam pasal 17, “Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program siaran bermuatan kekerasan.”

Ya, begitulah. Orang bijak sering bilang, untuk kebaikan terkadang harus ditempuh dengan cara sulit. Terasa pahit. Menahan birahi itu sulit, lho. Makanya ada larangan: jangan mendekati zina. Mendekati saja jangan, apalagi melakukan. Blur-bluran itu (barangkali) dalam rangka menangkal terjadinya perzinahan dan kejahatan itu tadi. 

Tapi, kalau masih birahi melihat pertandingan renang atau voli pantai, itu memang otakmu yang somplak. 
~SELESAI~

 

      

Iklan

Satu respons untuk “​Berterimakasihlah, Karena Pernah Mengenal Pamela Anderson (Balada Negeri Blur…!!!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s