sorotan

​Literasi untuk Hidup


SOROTAN

Seorang kawan datang ke rumah saya suatu sore. Kebetulan karena rumah saya kecil, partisi pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga hanyalah sebuah almari mungil tanpa hiasan apapun, kecuali deretan buku yang disusun sekenanya. Kawan saya ini seorang guru. Tetapi melihat tumpukan buku di bufet saya, ia sangat heran, seperti takjub. Menurutnya, koleksi buku saya banyak sekali. Sekarang, gantian saya yang heran, sebab dibenak saya guru pastilah banyak baca dan meski tidak in line dengan jumlah buku yang dimiliki, tetapi setidak-tidaknya lebih banyak dari buku kepunyaan saya.

Dalam ukuran saya, buku yang saya miliki masih sangat-sangat minim. Kalau jumlah persisnya saya tidak ingat berapa, karena tidak pernah dihitung. Tetapi, tidak terlalu banyaklah. Lagi pula, kantong saya juga terbatas. Ini jujur, buku bagi saya masih sebuah kemewahan. Banyak keperluan lain yang harus ditutupi. Uang sekolah, listrik, PAM, susu, uang jajan, uang belanja, transport, iuran RT, sampah. Ah, pokoknya banyaklah. Jadi, saya membeli buku kalau pas ada rezeki lebih, atau sengaja menyisihkan dengan risiko memangkas pos lain.

Entahlah, katanya Indonesia ingin menyongsong persaingan global. Kalau buku saja harganya mahal, susah juga mendongkrak literasi atau keberaksaraan masyarakat Indonesia, sebagai titik tolak peningkatan kapasitas diri dan daya saing. Betul, sekarang era digital dimana buku dapat diunduh dengan mudah melalui seluler pintar. Penerbit buku dalam jaringan (daring) sebagai sebuah alternatif, sebut saja Nulisbuku.com atau Storial.co, disambut dengan antusias. Konon, di tahun pertama keberadaannya, tahun 2010, Nulisbuku menerbitkan 200 judul. Saat ini, mungkin saja sudah jauh lebih dari 5.000 judul terbit melalui pola self-publishing.

Keduanya mampu memangkas jalur distribusi dan menihilkan biaya pracetak dan cetak. Penulis hepi—ya, tentu saja senang karena bagi hasil ke penulis umumnya lebih besar—karena tidak terbentur angkernya tembok yang biasa ditemui penerbit konvensional. Di sisi lain, penerbit konvensional sekarang mulai menjalin kerjasama—sebuah perubahan sikap yang cukup mengagetkan karena awalnya dianggap sebagai pesaing berat.

Apakah dengan begitu persoalan keberaksaraan beres? O, tidak. Buku beda dengan tabloid atau koran yang pantas takut jika disingkirkan situs-situs berita. Di Barat sana, mereka boleh saja khawatir buku konvensional akan mati suri karena tergeser digital. Di Indonesia, buku konvensional adalah pelengkap, bukan pengganti. Bagi orang Indonesia, membaca buku masih merupakan aktivitas memanfaatkan waktu luang. Jadi ya tidak tergantikan dengan perangkat elektronik, yang saat ini masih berfungsi utama sebagai alat komunikasi ketimbang sebagai rak digital. Lagi pula, saya sendiri masih menyukai buku yang berwujud fisik, daripada melototi layar-layar yang memedihkkan mata.

Tetapi yang lebih penting adalah ini: menurut studi yang dilakukan American Educational Research tahun 2014, disimpulkan tingkat pemahaman bacaan anak lebih tinggi dengan membaca buku cetak daripada membaca e-book. Buat saya, temuan ini penting. Pertama, kebiasaan membaca seharusnya tidak memiliki kontraindikasi. Artinya, tidak ada efek negatif berlebihan yang ditimbulkan akibat kegemaran membaca. Maksud saya adalah dengan menatap layar kaca berlama-lama, ada risiko besar pada kerusakan mata.

Menurut pendapat dokter mata-anak yang saya kunjungi, anak hanya diperbolehkan menatap layar gawai selama 1 jam per minggu. Bila membaca buku harus jeda 10 menit setiap 1 jam membaca buku. Bayangkan itu, betapa jauh perbedaan kuantitas halaman yang sanggup dilahap seorang anak, jika mengikuti aturan kesehatan. Nyatanyakan tidak. Kita tahu, tapi nekat melanggar. Anak dibiarkan saja bermain pada dunia yang seharusnya kita kontrol.

Kedua, itu artinya masih ada harapan buku cetak di masa depan bisa tetap bertahan, meski dengan jumlah pembaca yang tentu saja akan berkurang. Paling tidak beginilah. Riset itu membuktikan bahwa budaya baca pada anak menjadi penting, sebagai modal menjadi seorang yang leterer. Dan, efektif dilakukan melalui buku cetak. Tetapi di situlah biang persoalannya, buku cetak sulit dijangkau oleh masyarakat. Seperti pertanyaan dulu mana telur dan ayam? Begitulah rumitnya menjawab persoalan dulu mana buku murah (menyangkut daya beli) dan minat baca?

Kalau disuruh menjawab, saya akan angkat tangan. Karena menjawabnya butuh mulut orang lain yang memiliki kekuasaan atas kebijakan. Di Vietnam, buku bisa begitu murah karena mendapatkan subsidi dari pemerintah. Tidak heran jika jumlah buku yang diterbitkan di negeri Paman Ho Chi Minh itu setiap tahunnya mencapai 15.000 judul buku, bandingkan Indonesia yang hanya 8.000 judul buku . Padahal, jumlah penduduk kedua negara ini jauh berbeda, 225 juta banding 80 juta. (data per 2009). Dengan kata lain, di Indonesia menerbitkan 35 judul buku per 1 juta penduduk. Sedangkan Vietnam mengeluarkan 187 juta judul buku per 1 juta penduduk. Di situ saya terkadang merasa sedih.

Dengan kondisi seperti ini, bisa apa kita menghadapi tenaga-tenaga asing dari luar setelah sejak Januari 2016 lalu pintu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibuka lebar-lebar. Tenaga kerja Indonesia tidak bisa lagi mengelak bersaing dengan tenaga-tenaga asing. Kita terlalu mudah puas dengan angka. Begini. Literasi dahulu memang diartikan sebagai melek-aksara. Dimaknai secara teknis: mengenal huruf, mengeja kata dan menulis. Angka melek huruf tinggi itu baik, tentu saja. Namun, seharusnya tidak berhenti di situ.

Seperti pernah diungkapkan Peter Freebody dan Alan Luke (2003), dikutip dari tulisan Agus M.Irkham, literasi mencakup semua kemampuan yang diperlukan seseorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana. Artinya, Freebody dan Luke ingin mengatakan, literasi janganlah diartikan sempit sekedar baca-tulis, tetapi dilihat secara luas, menyangkut dimensi fungsional (ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sejarah, teknologi, gaya hidup dan budaya). Seorang yang literer seharusnya sanggup memanfaatkan kemampuan membacanya untuk keperluan hidup kesehariannya. Itu sebabnya, UNESCO beberapa waktu lalu pernah memberi judul dalam laporan tahunannya, “Litaracy for Life”.

Kalau yang dikejar hanya kemelek-hurufan saja, yang didapat hanyalah data statistik “hijau”. Tetapi begitu disandingkan dengan angka kemiskinan, yang terjadi bisa saja paradoks. Kemelek-hurufan naik, tetapi kemiskinan juga naik. Atau kenaikan angka melek huruf tidak terlalu signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan. Bila ini terjadi, maka boleh jadi literasi di Indonesia perlu dikoreksi. Sebab, semestinya literasi mampu memengaruhi keseharian hidup orang dari berbagai aspek yang melingkupinya.

Nah, silahkan ukur diri sendiri. Apakah literasi yang anda lakoni sudah memberikan manfaat baik bagi kehidupan atau belum. Kalau saya sih belum ya. Masih jauh-uh. 

~SELESAI~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s