bebas

Garam dan Kuaci


PERNAH makan makanan tanpa garam? Sudah pasti hambar bro. Anyep. Tapi mungkin lebih menyehatkan. Saran saya, kurangilah makanan asin dari sekarang, pelan-pelan aja.

Mengkonsumsi terlalu banyak garam bisa merepotkan kesehatanmu di kemudian hari. Bisa kena darah tinggi, penyakit kardiovaskular sampe jantungan. Yang menyedihkan, orang Indonesia gemar sekali makan garam. Bukan karena garis pantai Indonesia yang panjang, trus dikiranya banyak memproduksi garam dan masyarakat Indonesia jadi doyan yang asin-asin. Gak ada hubungannya, bro.

Nih, saya kasih tahu faktanya. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2011 (saya kutip dari cerita teman yang ahli pangan) rata-rata konsumsi garam masyarakat Indonesia sebanyaj 311 gram per kapita per minggu. Dengan jumlah penduduk 240 juta, artinya dalam setahun konsumsi garam Indonesia 3,9 juta ton per tahun. Data terbaru menyebutkan, kebutuhan garam nasional mencapai 4,3 juta ton. Ini yang fantastis bro.

Tahu berapa batas konsumsi garam yang sehat dalam sehari? hanya 5 gram per hari atau 35 gram per minggu atau setara dengan sekitar 437 ribu ton konsumsi per tahun untuk seluruh Indonesia.

Dari sini sudah bisa terlihat bahwa konsumsi garam orang Indonesia kelewat tinggi, mencapai 10 kali lipat dari batas yang dianjurkan. Jadi, kalo penyakit orang Indonesia “serem-serem” ya gak usah heran.

Mumpung sekarang harga garam lagi mahal, kurangilah konsumsi garam atau produk yang terlalu banyak mengandung garam. Lumayan, duitnya bisa dihemat. Belilah buah supaya lebih sehat. Tapi jangan lupa yang lokal ya. Rasanya jauh lebih enak dan juga sehat. Kalau kita semua serempak, maka petani buah bisa untung karena permintaan naik, harga membaik. Kalau konsumsi garam menurun, pemerintah gak perlu impor garam, karena ternyata petani garam di Indonesia hanya mampu memasok 1,8 juta ton. Dananya bisa digunakan untuk membina petani garam supaya mutu garam menjadi lebih baik.

Gini lho ya, jangan dikira karena Indonesia memiliki garis pantai 99.093 kilometer lantas langsung dianggap Indonesia berpotensi sebagai penghasil garam besar dunia, apalagi diembel-embeli dengan kualitas garam terbaik. Enggak. Garam Indonesia secara kualitas masih di bawah spesifikasi yang dibutuhkan industri: kandungan NaCl-nya masih di bawah 97 persen. Kalau untuk konsumsi masih oke karena takaran NaCl cukup 94 persen.

Petani garam Indonesia masih sangat tradisional, jauh dari sentuhan teknologi. Apalagi, kondisi cuaca (mengandalkan panas matahari untuk proses penguapan) sering menentukan keberhasilan panen garam. Kondisi yang terjadi saat ini, cuaca belum berpihak pada para petani garam. Akibatnya banyak garam belum siap paneb. Bandingkan dengan negara lain yang cukup dengan menambang garam.

Hah?! Garam Ditambang. Iya, ditambang layaknya barang tambang lainnya. Gak usah heran. Justru garam hasil tambang jauh lebih baik. Kandungan NaCl-nya yang bisa mencapai 100 persen, menjadi incaran industri.

Kok bisa? sederhananya, proses kimia ribuan tahun dan “pencucian” garam yang berlangsung sangat-sangat lama itulah yang membuat garam ini ibarat emas 24 karat. Ditambah dengan pengerjaan yang tersentuh teknologi, menjadikan garam tambang jauuuh lebih efisien. Ada beberapa negara yang memiliki tambang garam yang sudah ratusan tahun dilakukan, seperti di Polandia, Austria, Jerman dan Australia. Untuk menutupi kelangkaan garam, Indonesia sudah memutuskan mendatangkan garam dari Australia dan India.

Jadi, kapan Indonesia bisa mencukupi kebutuhan garamnya? Kamu bisa jawab sendiri-lah. Selain pengerjaannya yang tradisional, kualitas yang masih rendah, ternyata tidak semua air laut di sepanjang pesisir itu bisa dijadikan garam. Di Indonesia hanya ada 15 titik sentra tambak garam.

Kalau ada yang masih nyinyir kenapa Indonesia terus-terusan impor garam, sementara pantainya begitu panjang, mungkin dia kebanyakan makan kuaci. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s