intermezo · stori

Berguru Pada Bule, Penjual Mie Kocok


Kalau anda kebetulan berada di Lembang, Jawa Barat, coba deh mampir ke warung “Mie Kocok Lembang” . Lokasinya di seberang (agak serong) Hotel Pesona Bambu. Jika sedang beruntung, anda akan dilayani seorang bule. Ya bule. Double bule malah. Bapak Jerman dan Ibu Belanda.

Meski bule, dia lancar banget bahasa Indonesia. Maklum, ia memang lahir di Lembang, 66 tahun lalu. Nama lengkapnya Michael Hopmans. Kalo menyinggung soal Indonesia dan kulinernya, semangat kakek tiga cucu ini bisa meletup-letup.

Sebenarnya saya tanpa sengaja mampir di warung Hopmans, karena kebetulan aja kelaparan di tengah malam dan hawa dingin, maka mie kocok jadi pilihan. Begitu masuk warungnya, saya sempat ragu, tapi Hopmans dengan ramah mempersilahkan kami masuk.

Ia bercerita, bukan sekali-dua saja tamunya batal masuk karena dilayani seorang bule. “Yang seperti Bapak banyak. Mereka ragu karena harga mahal dan tidak halal,” cetus Hopmans.

Padahal, menurut Hopmans, harga yang ditawarkan sama seperti warung mie kocok lainnya, berkisaran 25-35 ribu tergantung varian isinya. Tapi, ada yang benar-benar membedakan warung Hopmans dengan lainnya: sertifikat halal. Untuk urusan ini, bapak dua anak ini bahkan berani bertaruh, di sekitaran Pasar Lembang tidak ada warung mie kocok yang mengantungi stempel dari MUI itu.

Hopmans juga menjamin makanan yang diolahnya higienis dan aman. Sebagai orang yang pernah bekerja puluhan tahun di hotel bintang lima di kawasan Semanggi, Jakarta, soal kebersihan makanan nomor satu. Meski, secara fisik saya lihat, warungnya terlihat sumpek dan penuh. Tapi soal rasa, bolehlah bisa diadu.

Yang membuat saya kagum adalah kepeduliannya terhadap masyarakat kecil. Hopmans sering sekali diundang ke berbagai pelosok memberikan mentor ke pelaku UMKM. Berbagai trik dagang dia ajarkan ke pelaku usaha kecil. Pengalamannya di bidang manajemen hotel dan kuliner membuat pikirannya selalu dibutuhkan.

“Paling susah itu mengubah mindset masyarakat, bukan bagaimana mengolah makanannya,” kata Hopmans.

Pola pikir yang dimaksud Hopmans adalah kecerobohan dalam menjalankan usaha. Bisnis dibiarkan berjalan apa adanya tanpa perencanaan ke depan seperti apa. Akibatnya, usaha macet di tengah jalan. Paling sering terjadi adalah pengelolaan keuangan yang tanpa aturan. Ini mengakibatkan rusaknya arus-kas usaha. Passion juga memegang peran penting dalam mengembangkan usaha, selain tentu saja ketekunan dan kerja keras.

Saya tanya ke Hopmans, kenapa berjualan mie kocok dan bukan yang lain, menurut Hopmans mie kocok adalah makanan khas yang harus dijaga, dan penggemarnya cukup banyak. Ini yang menurut Hopmans paling penting: agar dia mudah berinteraksi dengan tamu yang ingin berdiskusi soal usaha. Maklum, rumahnya berada di Cimahi yang cukup tertutup karena digunakan untuk pabrik pengolahan tepung martabak. (nanti saya ceritakan).

Betul memang. Beberapa jam sebelum saya datang, segerombolan ibu-ibu datang minta diajari membuat yoghurt. Ada sekelompok lainnya minta diajarkan membuat tahu. Ada yang minta diperlihatkan caranya membuat martabak.

Malam itu, saya sempatkan minta Hopmans mempraktikkan mengadon martabak dari tepung yang diolahnya secara khusus. Hopmans menawarkan martabak dari adonan coklat berwarna hitam, yang dinamainya Martabak Afrika. Sebagai pemilik merk dagang martabak “Hollann Snoep”, Hopmans setiap bulan harus memasok 2 ton tepung ke 98 waralabanya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Tentang martabak ini Hopmans punya cerita. Menurut pengakuannya, aneka rasa martabak yang saat ini sedang tren sudah dilakukannya sejak lama sekitar tahun 2003. Ketika pedagang lain masih menggunakan coklat, keju dan kacang, Hopmans sudah menggunakan cherry, blueberry, coco-chip bahkan coklat-kopi. Bukan cuma itu, saat pedagang lain menggunakan satu ukuran loyang, Hopmans sudah menggunakan tiga ukuran: maxi, midi dan mini.

Kreativitas Hopmans memang tak pernah berhenti. Untuk ibu-ibu muda yang mengutamakan kesehatan, Hopmans mencampurkan adonan dengan air jus. Bahkan, ia menyediakan martabak dari tepung singkong berfermentasi untuk yang sedang diet dan penderita diabetes. “Pelanggannya banyak dari rumah sakit,” tegas Hopmans.

Tak terasa, saya sudah dua jam kongko, tapi Hopmans terus cerita. Berbagi ternyata bukan soal mudah. Ia sempat didemo seluruh pedagang ketan bakar di sekitar Pasar Lembang, lantaran dia menjual ketan bakar yang dimodif dengan duren. Menurut Hopmans, orang harus diberi alternatif dan tidak melulu ditawari oncom dan serundeng.

“Saya pernah ajari mereka, tapi mereka menolak. Ya sudah, saya buka sendiri. Laku. Tapi, saya malah didemo. Inikan lucu,” kata Hopmans yang malam itu masih terlihat segar.

Karena mata sudah gak kuat, saya pamit, sambil menenteng seloyang Martabak Afrika yang dibuatnya tadi.

Lembang, 23 September 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s