bebas

Menertawai Indonesia Ala Mahbub


Membaca kumpulan tulisan Mahbub di buku ini seperti memboyong kita ke masa lalu. Urutan kejadian nampaknya memang disengaja editor agar pembaca memahami jejak peristiwanya, ketimbang pilihan topik.

Ketika rubrik “Asal Usul” di Kompas terbit pertama kali tahun 1984, dimana Mahbub baru mulai mengisinya secara rutin tahun 1986, saya masih kelas empat SD. Jadi buat saya, membaca buku Mahbub seperti mengingat-ingat kembali suasana Indonesia beserta peristiwa yang mengikutinya.

Sembilan tahun Mahbub mengisi secara rutin di rubrik ini sebelum kemudian mangkat di tahun 1995. Kehidupan Mahbub penuh dengan dinamika, bahkan sampai akhir hidupnya berada di penjara, tanpa diketahui kesalahannya karena tidak melalui proses pengadilan.

Ketajaman tulisan Mahbub boleh jadi disebabkan karena kepeduliannya yang tinggi terhadap kondisi Indonesia (baca: kritis). Ditambah dengan data yang kuat membuat apapun yang disajikan menjadi tepat sasaran. Kadang fenomena dituturkan dengan cara menyindir, tetapi seringkali juga tembak langsung. Tapi, pada paragraf awal Mahbub beberapa kali mendahuluinya dengan sebuah kisah tentang peristiwa yang berhubungan dengan topik atau mengisahkan tentang pengalaman pribadi.
.
Semisal,
Seorang nyonya beratnya 58 kg 6 ons. Ia ingin tetap seberat itu kalau bisa hingga meninggal dunia …. Tiap pagi dan sore nyonya berjingkrak-jingkrak, menggelepar-gelepar, rebah dan bangun serta berguling-guling menjaga kondisi badan. Ini artinya nyonya menjaga status quo pada berat 58 kg dan 6 ons.
Untuk sampai pada topik tentang status quo, pembaca diberi cerita tentang si nyonya agar memudahkan pemahaman apa itu status qou.
.
Yang menyenangkan dari membaca karya Mahbub adalah kita tidak digurui. Caranya memandang masalah bisa dibuat jenaka lewat pilihan kata-katanya yang memancing senyum. Gugatan disampaikan dengan cara humoris. Pancingan tawa untuk sesuatu yang sesungguhnya bercerita tentang kepedihan. Ia seorang yang paradoks.
.
Tulisan Mahbub enteng dibaca, mengalir dengan runut dan mudah sekali dicerna. Diksi-diksi yang digunakan tidak sembarang diletakan. Tempaan sebagai seorang jurnalis membawa kepekaan. Kegemarannya bergaul dan membaca memperkaya tulisan. Dan, Kecintaannya
pada sastra menjadikannya piawai memilih kata dan makna.
.
Ia juga pandai membuat metafora.
.
Satu contoh, bagaimana Mahbub menggambarkan seorang revolusioner:
Seorang revolusioner tidak sempat buka prop botol. Ia pecahkan leher botol dan tenggak isinya masuk mulut.
.
Buku ini rasanya bukan hanya cocok untuk yang pernah mengalami peristiwa di zamannya, buat generasi setelahnya perlu juga melihatnya bagaimana sebenarnya bangsa ini berjalan. []
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s