bebas

Sihir Pidi untuk Dilan


“pada awalnya cinta itu sesungguhnya bisa melihat, sebelum lalu menjadi buta karena kemudian dia turun ke dalam hati”

Jangan kagum dulu pada saya. Itu kutipan Pidi Baiq, penulis novel “Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990” yang sekarang versi filmnya sudah menembus angka di atas lima juta penonton.
.
Banyak sekali Pidi memberikan “sabda” dalam kitab Al-Asbun-nya yang kadang bikin terkaget-kaget. Terhadap keyakinan ia mengatakan begini,
“Jika aku tidak yakin masuk surga, aku akan keluar dari agama yang aku yakini.”
.
Pidi ini seorang seniman komplit. Selain menulis, ia juga pencipta lagu. Juga seorang yang humoris. Lihat saja celotehnya,
.
“bahal, dengarlah olehmu, sekikir-kikirnya manusia, dia tetap akan memberikan makan dan minum kepada toilet.”
.
Meski terkesan asbun alias asal bunyi, Pidi sesekali bisa bersifat bijak,
“kalau Tuhan menampakkan diriNya, maka Tuhan tidak adil karena orang buta tidak bisa melihatNya.”
.
Selain kata-kata Pidi yang menyihir, kecerdikannya dalam novel kali ini adalah mengambil segmen dalam dua generasi sekaligus. Bagi remaja, film romansa memang membuai, membuat melayang, seringkali dicocok-cocokkan dengan realitanya. “Ya, ampun, ini gue banget!”
.
Bagi orang tua, setting tahun 1990 adalah nostalgia, membayangkan para mantan. Saat ini era 80-90’an sedang mendomonasi. Sebagian besar masa puncak karir dikuasai oleh generesi Dilan tahun 1990 itu. Posisi-posisi CEO, general manager, manajer atau setidaknya penyelia bertumpuk pada generasi ini. Level dengan pengeluaran paling besar untuk konsumsi berada di kelompok Voltus V inilah. Gabungan dua kebutuhan pada beda generasi, yang kemudian membuat kisah Dilan diincar. Orang tua mengajak anaknya menonton Dilan, sesungguhnya bukan untuk menyenangkan anak-anaknya itu, tetapi menyenangkan kenangannya. Generasi Sim City tenggelam dalam angan-angan, generasi tetris terbuai masa lalu.
.
Sebentar, sebelum melanjutkan, jika masih ada yang bingung dengan beberapa istilah, maka kamu bukan kelompok Dilan tahun 1990. Nah, cari tahu sama mama-mu ya.
.
Tapi, inilah kehebatan Pidi dan tentu saja produser dan sutradara yang mengemas film ini sehingga bisa laku. Beberapa istilah “asing” atau nuansa masa lalu diabaikan oleh para remaja. Mereka tersihir kekuatan dialog di antara tokoh-tokohnya. Seperti,
.
“nanti kalau kamu mau tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur kepadamu dari jarak jauh. Kamu gak akan dengar.”
.
Dialog diperkuat dengan pengadeganan Milea masuk kamar dan mengucapkan selamat tidur kepada Dilan.
Sihir paling kuat dan kemudian viral adalah ini,
.
“jangan rindu, berat. Kau tidak akan kuat, biar aku saja.”
.
Di bangku sebelah, mama-papa mungkin sedang fokus pada suasana, adegan dan properti yang membawanya kembali mereka-reka kejadian ketika masih remaja dulu. Ada Vespa, telpon umum, model rambut, baju dan gaya pemain.
.
Tapi, ini kemudian akan mudah ditebak. Dalam waktu tidak terlalu lama bakal bermunculan novel sejenis lalu diikuti dengan film sejenis pula. Kesuksesan memang selalu membuat iri. Padahal, kesuksesan sebuah karya bukanlah sebuah keberuntungan, tetapi hasil dari fermentasi pikiran dan diskusi yang panjang. Media sangat berperan dalam mendorong kelatahan-kelatahan semacam ini. Dalam kadar dan sektor tertentu good news ia good news.
.
Media mudah sekali mem-blow up kesuksesan sebuah karya (film), yang seringkali tidak berimbang. Proses seringkali diabaikan. Pendapatan finansial menjadi lebih menonjol. Siapa yang tidak kepingin mengikuto jejak Dilan, jika keuntungan (sementara) film ini sudah mencapai Rp 60 miliar hanya dalam tiga pekan?
.
Dari sudut positif tentu saja baik supaya industri film Indonesia makin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan tidak mudah diserbu oleh pasukan Avangers. Pasti banyak yang tidak tahu juga bahwa puluhan film banyak yang merugi, karena berbagai sebab. Latah dan ikut-ikutan itu tidak akan menolong industri ini makin membaik
.
“Jadi, membuat film itu berat, kau tidak akan sanggup (kalau tidak kreatif), biar aku (para instan kreatif) saja …. “
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s