bebas

Sepotong Kue untuk Kiai


Banyak sebab orang memberikan rekomendasi. Salah satunya orang itu dapat dipercaya, sehingga sangat dianjurkan untuk diperhatikan. Maksud dipercaya tentu dalam kacamata si pemberi rekomendasi. Bahwa orang tersebut mampu melakukan hal-hal yang dalam versinya dianggap cakap.

Misal, saya direkomendasikan ke salah satu toko karena dianggap mampu membuat cheese cake enak. Rekomendasi ini keluar karena referensi lidahnya yang kebetulan cocok dengan cheese cake buatan saya. Tapi, apakah cheese cake buatan saya benar-benar enak, meski rekomendasi itu dikeluarkan seorang chef?

Nilai sakral rekomendasi tidak dipungkiri bergantung pada siapa yang mengeluarkan. Sosok menjadi sangat penting. Seseorang mengeluarkan rekomendasi sebenarnya ia sedang mempertaruhkan kredibilitasnya. Bayangkan kalau cheese cake saya, yang menurut pembeli ternyata tidak enak? Rusak sudah citranya sebagai chef.

Meski sebuah rekomendasi sifatnya tidak mengikat, tapi siapa yang berani melawan jika ternyata penerbit rekomendasi adalah bosnya. Siapa yang berani menolak saya di toko kue, kalau yang memberikan rekomendasi adalah ternyata kepala chef, orang kepercayaan bos pemilik kue. Biar gak enak, ya ditelen aja. Soal dapat protes dari pembeli itu urusan lain.

Kue itu soal rasa dan selera. Boleh jadi cheese cake buatan karyawan sebelumnya lebih digemari pembeli ketimbang buatan saya. Dan ternyata ini yang bisa membuat toko kue itu membludak, dibanjiri pembeli. Lha, apa jadinya kalau saya tiba-tiba menyodok dengan dominasi cheese cake di rak-rak yang belum tentu digemari itu?

Apakah kue saya lebih bermutu, lebih higienis, lebih bergizi dan paling dibutuhkan konsumen? Ya belum tentu. Boleh jadi para pembuat kue sebelumnya jauh lebih baik dari saya. Mereka ini jauh lebih senior dari saya, yang karena pengalamannya mampu sekaligus mengerti kebutuhan dan keinginan konsumen.

Saya bangga direkomendasikan? Ya tentu saja. Tapi, bukan berarti saya hebat, tho! Sekali lagi ini soal kepercayaan dan menjaga kepentingan. Boleh jadi saya dititipkan di toko kue itu karena dianggap mampu menelihara selera cita rasanya itu. Chef kenalan saya ini sangat fanatik dengan lidahnya.

Saya mungkin bukan satu-satunya yang direkomendasikan untuk bekerja di toko kue itu, ada beberapa, tersebar di beberapa gerai. Tapi apa saya bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang membludak bahkan sebelum toko buka, jika pembuat kue lain tidak diizinkan lagi bekerja? Saya yakin tidak bisa. Kalau itu dibiarkan, tentu saja ini bentuk menzaliman terhadap konsumen, yang berhak untuk mendapatkan banyak pilihan cheese cake.

Lagi pula saya tidak ingin rekomendasi atas diri saya justru membuat rasa tidak enak hati dan pergesekan sesama pembuat kue. Pantang bagi saya. Toh, kami punya kesamaan tujuan: ingin menyenangkan konsumen dengan kue yang bergizi dan higienis ,dan tentu saja enak.

Saya berharap konsumen masih memiliki kebebasan untuk membeli kue yang dibutuhkan bagi mereka, bukan karena pilihan yang terbatas. Suatu saat kalau ada di antara pembeli yang antre itu adalah kiai, saya akan memberikan sepotong kue untuknya, sambil memohon didoakan kebaikan bagi saya, bagi pembuat kue lainnya dan kebaikan untuk pembeli. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s