puisi

Bulan Merah di Pemalang


Perlukah kita menebus puluhan nyawa sebelum kesadaran itu datang? Haruskah Tuhan ‘membangunkan’ kita dengan cara yang kasar, yang kamu juga pasti tidak menyukainya? Inikah cara yang kalian pilih, sampai akhirnya ibu-ibu menjadi janda, anak-anak menyandang yatim, suami kehilangan kekasih hidupnya, orangtua tepekur meratapi takdirnya yang terdahului anaknya? Darah itu terlanjur tumpah, saudaraku. Tangis itu sulit… Continue reading Bulan Merah di Pemalang

puisi

Negeri Iblis


ada keceriaan yang kutahu diambil dari kesedihan. kami, manusia, yang masih memiliki hati pasti gundah. geram. marah sekali. tersentak oleh pagi buta menjelang subuh. perlukah para iblis itu menyesak masuk ke bilik-bilik kamar, geladak, menembaki manusia lainnya, yang sedang membawa harapan demi jutaan nyawa di sebuah negeri lahirnya semua agama samawi. tak cukupkah sejarah itu… Continue reading Negeri Iblis

puisi

hilang


dua pagi tanpa ciuman meringkuk kecut di kesendirian : perih aku masygul kamu isak hadirmu tak mengganjilkan pergimu begitu menggenapkan ,aku dimana ,kamu entah Bojong Kulur: 20:05:2010

puisi

nggak lupa


bagaimanapun masa lalu adalah kenyataan kenyataan yang mustahil berlalu berlalu tanpa sebab yang jelas jelas suatu ketidakmungkinan tapi apakah akan terus begitu terus dihantui perasaan khawatir perasaan takut dicintai takut dikhianati lagi namun semua adalah kewajaran semua adalah romantika hidup adalah mungkin baginya untuk tertutup mungkin sesaat atau tak tahu entah kapan akankah ku sanggup… Continue reading nggak lupa

puisi

aah…


waktu aku bilang kamu cantik kamu bilang ah, becanda waktu aku bilang kamu manis kamu bilang ah, bisa aja waktu aku bilang kamu baik kamu bilang ah, ‘be’ aja dong tapi, waktu kamu tahu aku sayang kamu kamu nggak bilang apa-apa mungkin saat itu aku beropini ah, barangkali ia masih bingung mungkin saat itu aku… Continue reading aah…

puisi

sajak harmoni


gunung gemar menusuk awan kutanya bagaimana bisa tetap damai tebing hidup bersama terjal kau kagum dua yang saling melengkapi hujan beriringan dengan badai kuragu diantaranya menyelingkuhi laut selalu beriak dengan ombak kau pun heran harmoni di keduanya di ujung cerita aku dan kamu berdampingan kita lantas tersenyum apa mampu seperti mereka Gelora: 10:03:2010

puisi

kantuk


pergi sana kubelum butuhmu boleh lihat sebentar lalu cepatlah berpaling jangan coba datang kalau kutakminta ah, pasti kau bohong lagi belum sebentar kuminta kau ingkar tuhkan, mengapa kau menyergapku? kubilang tunggu sampai aku sesambatmu tubuhku masih kokoh cakarku kuat menghujam bumi lihat, lihat dengan jelas putik mataku apa kau dapati sudah layu belumkan? makanya, pergi… Continue reading kantuk