puisi

Musang 


Ketika burung menyebar kebencian dan musang dengan lahap menyantapnya

Iklan
puisi

Debu Republik


corengmu mengguratkan batin luka ketika republik ditimpa bencana bergiliran ketika musuh kemiskinan merajalela ketika semua manusia di bentala nusantara menyunggi derajat ketika rakyat menaruh cita di atas kepala kamu-kamu seenaknya saja menari-nari tarian peleceh keadilan   gaya tarimu samasekali tidak lucu bahkan seronok jenis tandakmu mengangkangi rasa keadilan meruapkan kebencian lagakmu memamerkan semua aib republik… Continue reading Debu Republik

puisi

Bulan Merah di Pemalang


Perlukah kita menebus puluhan nyawa sebelum kesadaran itu datang? Haruskah Tuhan ‘membangunkan’ kita dengan cara yang kasar, yang kamu juga pasti tidak menyukainya? Inikah cara yang kalian pilih, sampai akhirnya ibu-ibu menjadi janda, anak-anak menyandang yatim, suami kehilangan kekasih hidupnya, orangtua tepekur meratapi takdirnya yang terdahului anaknya? Darah itu terlanjur tumpah, saudaraku. Tangis itu sulit… Continue reading Bulan Merah di Pemalang

puisi

Negeri Iblis


ada keceriaan yang kutahu diambil dari kesedihan. kami, manusia, yang masih memiliki hati pasti gundah. geram. marah sekali. tersentak oleh pagi buta menjelang subuh. perlukah para iblis itu menyesak masuk ke bilik-bilik kamar, geladak, menembaki manusia lainnya, yang sedang membawa harapan demi jutaan nyawa di sebuah negeri lahirnya semua agama samawi. tak cukupkah sejarah itu… Continue reading Negeri Iblis

puisi

hilang


dua pagi tanpa ciuman meringkuk kecut di kesendirian : perih aku masygul kamu isak hadirmu tak mengganjilkan pergimu begitu menggenapkan ,aku dimana ,kamu entah Bojong Kulur: 20:05:2010

fiksi

Doa Dua Wanita Tentang Air


fiksimini-2 : 1.Menggugat Tuhan “Tuhan, mana doa yang kuberikan dulu?”/”Ku-simpan dalam kotak”/”kok??”/”Ku-butuh kesungguhanmu!” 2.Dua Wanita Gincu merah di bibirnya bersih setelah semalaman dikulum istrinya di sebuah malam yang gulita 3.Air Tepat. Ketika setetes air itu diambil, dunia berubah menjadi kering. Bojong Kulur: 14:04:2010

puisi

nggak lupa


bagaimanapun masa lalu adalah kenyataan kenyataan yang mustahil berlalu berlalu tanpa sebab yang jelas jelas suatu ketidakmungkinan tapi apakah akan terus begitu terus dihantui perasaan khawatir perasaan takut dicintai takut dikhianati lagi namun semua adalah kewajaran semua adalah romantika hidup adalah mungkin baginya untuk tertutup mungkin sesaat atau tak tahu entah kapan akankah ku sanggup… Continue reading nggak lupa